Jadi orang miskin

Ada satu masa dimana gua pengen banget jadi orang kaya. Orang kaya yang punya banyak uang. Yang bisa beli apa aja, yang bisa pergi kemana aja yang dimau. bahkan gua pengen anak anak gua nanti bisa sekolah dimana aja mereka mau, bisa menuhin apapun kebutuhan mereka.
Karena gua tau gimana rasanya diremehin, direndahin, dan ga dianggep hanya karena gua miskin, karena gua ga punya uang.

Masa kecil gua bukanlah cerita dongeng yang serba manis. Masa kecil gua ga bisa dibilang indah, walaupun mau gamau mesti gua syukuri juga. Gua tau rasanya sekelas sama anak anak borju, anak anggota DPR, anak pengusaha, anak pilot, anak dokter, dan macem-macem. Karena gua agak pinter aja makanya Allah nempatin gua disekolah bonafide. Sekolah dasar yang mestinya 6 tahun, cukup gua kelarin 5 tahun aja. Selesai SD, terus sampe gua selesai sekolah, keadaan finansial keluarga gua ga bisa dibilang baik, masih berlanjut sampai gua selesain diploma 3 gua. Gua irit uang bayaran kuliah 1 tahun, jadi cukup 2 tahun aja gua selesai D3. Selesai kuliah, alhamdulillah gua langsung dapet kerja sebelom wisuda.
Dari situ, titik awal gua bersumpah sama diri gua sendiri, kalo gua akan kerja keras, gua harus punya uang banyak, gua gamau miskin terus terusan. Sampe akhirnya gua bisa biayain kuliah ekstensi gua 3 tahun berikutnya pake duit kerja gua, lembur siang malem Senin sampe Jumat, kuliah Sabtu kadang Minggu lembur juga. Gua cuma mikir satu, kuliah gua mesti kelar, ga boleh macet karena gua ga bisa bayaran.

Hari ini, 3 tahun sejak gua jadi sarjana. Gua masih miskin? Iya, masih. Gua masih banyak utang, dan gua masih direndahin orang karenaa gua miskin, ya walaupun ga separah dulu. Dan kadang gua masih ngerasa sedih, kok ada yang orang orang yang tega begitu? Apa gua kurang giat kerja? Apa gua kurang kreatif cari peluang usaha?

Ini akan gua ajarkan ke anak anak gua nantinya. Bukan salah kita kalo kita lahir miskin, tapi kalo sampe kita mati dalam keadaan miskin, itu salah kita. Gua gamau mereka nanti menilai orang dari punya atau ketidakpunyanya  akan rupiah. Jangan jadi orang yang jahat. Nakal tidak apa, asal jangan jahat. Jahat bikin orang sakit hati, jangan bikin orang lain nangis sampai akhirnya mengadukanmu pada penciptanya.

Advertisements

Senin bersama Eni

Menghabiskan 1 jam dari hari Senin bersama Eni, sahabat jaman setelah sekolah (?) yang sebentar lagi akan melepas masa lajang. Satu jam terasa begitu pendek untuk membagi cerita 3 tahun yang terlewat tanpa temu. Dalam satu jam itu, hampir semua keluar tanpa jeda, tanpa ampun, galau galau masa pencarian cinta sampai akhirnya kini ia berlabuh.
Kenal Eni justru setelah lulus SMA, sembilan tahun yang lalu, dari blog. Kami hanyalah remaja menjelang 20 tahun yang galau sama sosok laki laki yang baru kami kenal sebentar, sosok yang kami pikir akan selamanya ada disisi. Masa ketika kami begitu naif, begitu mudah sedih, mudah galau, mudah tertawa, mudah menangis. Bisa dibilang kami jarang sekali tatap muka, mungkin selama sembilan tahun, bisa dihitung pertemuan yang benar benar butuh waktu luang. Tapi, setiap kali ngobrol, obrolan kami banyak sekali, luas, dalam, dari mulai pekerjaan, pacar, teman, sahabat, keluarga, orang tua, masa depan, perasaan, dan masih banyak sekali. Topik topik yang jarang mau saya bicarakan dengan orang yang lebih lama dikenal sekalipun.
Dua bulan dari hari ini, Eni akan resmi jadi istri orang. Bukan lagi remaja galau yang gampang curhat, gampang menangis, gampang risau. Eni akan menapaki jenjang baru dalam hidupnya, jenjang yang belum akan gua tapaki. Akan ada cerita cerita baru yang dia bagi nantinya, cerita yang gua belum tau akan seperti apa?

Lebaran pertama

Ini lebaran ke lima saya tanpa ayah di rumah kami. Sejak dia memutuskan tinggal di rumah yang lain, ini adalah pertama kalinya saya tidak mengunjungi dirinya. Sengaja? Tentu.

Kita tidak pernah tau apa yang kita miliki sampai suatu saat kehilangannya.

Pepatah klasik yang masih benar adanya sampai detik ini. Dulu saya sering merasa rasa sendiri, bagaimana rasanya tidak ada ayah? Sedihkah? Sepikah? Ternyata tidak juga. Mungkin karena pondasi komunikasi kami juga tidak sebaik ayah dan anak perempuan lain ya, mungkin iya.

Kalau dulu saya beberapa kali menulis tentang apa apa yang ingin saya sampaikan, kalau saja bisa, ke ayah saya. Tapi kali ini tidak. Sekarang bukan lagi waktunya dia. Seperti yang pernah saya bilang, saya tidak punya tempat di hati untuk orang orang yang memilih pergi. Kalau mereka memilih pergi, silakan, jangan pernah berharap saya akan melarang.

Saya ingin hidup tenang dengan apa apa yang saya miliki, bukan dengan yang tidak ada, apalagi kalau yang tidak ada itu adalah yang sengaja menghilang.

Ayah, tapi darinya saya banyak belajar, untuk tidak jadi seperti dia, untuk tidak menjadi orang tua seperti dia bagi anak anak saya kelak, untuk tidak terjerumus laki laki seperti dia. Darinya saya berkaca, apa apa yang harus saya hindari, apa apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan sebagai manusia.

Saya masih belajar, dan akan selalu.

Ketiadaannya mungkin menggores luka di hati saya, hati adik adik saya, namun setiap luka akan sembuh dengan ikhlas. Saya tidak bisa memilih siapa yang jadi ayah saya, namun saya ikhlas dipilihkan ayah seperti dia, saya ikhlas ketika justru dia yang menorehkan luka paling dalam di hati yang seharusnya dia jaga paling utama.

Terima kasih untuk dua puluh tiga tahun kebersamaan kita, ayah. Mari kita bahagia sendiri sendiri.

Jadi begini rasanya membenci diri sendiri

Perempuan yang baik untuk laki laki yang baik.

Dan sebaliknya.

Tapi saya belum putus asa untuk jadi baik. Untuk jadi pantas mendampingi yang baik. Untuk jadi layak didampingi dengan yang terbaik.

Dua puluh delapan tahun bukan usia yang muda untuk merisaukan mana perbuatan baik dan buruk. Dua puluh delapan seharusnya sudah cukup tau konsekuensi dari sebuah keputusan.

Saya merasa tertinggal jauh dibandingkan teman teman sebaya saya. Seharusnya di usia ini saya tidak lagi galau tentang tujuan hidup. Seharusnya saya memikirkan sesuatu yang lebih berbobot.

Saya merasa tidak berkembang. Tidak jadi lebih baik.

Kadang saya merasa hidup saya adalah sebuah kerumitan yang saya buat sendiri. Hidup saya jadi lebih susah karena keputusan dan kesalahan yang tidak seharusnya saya lakukan. Kalau sudah begitu, salah siapa? Ya saya.

Sudah lama saya tidak berdialog dengan diri sendiri seperti ini. Sudah lama tidak tanya “kamu mau jadi apa?” “Setelah ini harus ngapain?” ke diri sendiri. Seharusnya pertanyaan saya sekarang lebih berisi, lebih bermutu.

Saya ingin jadi pribadi yang lebih tegas ke diri sendiri. Saya ingin mampu melakukan apa yang saya anggap benar. Saya pengen punya keluarga harmonis. Yang jauh lebih baik dari keluarga tempat saya tumbuh. Saya ingin jadi anak yang baik, pasangan yang baik, orang tua yang baik. Padahal diri saya sendiri belum baik, terus harus gimana? Saya kaya orang bodoh yang berputar di kesalahan dan dosa yang sama. Ga kebayang sulitnya jadi orang tua saya. Memiliki dan membesarkan anak seperti saya. Ckck.

Saya mohon berikan hidayahMu ya Allah. Untuk saya, untuk diri saya sendiri dulu. Karena saya mau jadi lebih baik untuk saya, bukan untuk orang lain.

Jatuh cinta dan sakit hati itu sepaket. Sama dengan baik dan buruknya seseorang yang telah datang, dan kamu ijinkan tinggal dihatimu. Ingat kembali tujuanmu dulu ketika membiarkannya masuk dan menjadi bagian dalam hidupmu- Arista kepada Arista

Mari berkelana dengan rapat, namun tak dibebat. Janganlah saling membendung bila tak ingin tersandung. Pegang tanganku, namun jangan terlalu erat karena aku ingin seiring, bukan digiring.

-Dee Lestari

To be bride.

Minggu sore kemarin terlibat percakapan singkat dengan Eni. Seorang sahabat yang sedang menyiapkan hari bahagianya sebagai calon istri dari seseorang. Kami berbagi ketakutan, kekalutan menjelang berubahnya status menjadi nyonya. Segala kekhawatiran yang pernah terlintas juga dikepalaku, satu, dua kali, ah tidak, mungkin lebih.
Dia membagi pembicaraannya juga dengan temannya yang sudah menikah dan beranak.  Mengenai segala ketakutan menjelang pernikahan, temannya menjawab seperti ini,

“begitu kamu jd istri, kamu otomatis pengen jd istri yang baik, ibu yang baik. asli deh ga kepikiran ketakutan kaya pas masih pacaran”

Deg. Mungkin iya, ketika menikah nanti, fokus kita akan berubah. Sudut pandang kita akan berubah. Itulah mungkin sebabnya semua akan terasa berbeda ketika menikah, tidak peduli berapa lama kita saling kenal dengan suami kita, tidak peduli berapa tahun ktia berpacaran. Kemudian, sebuah kalimat, sebagai pengingat, bahwa,

“oh kalo manusia itu sepaket, mungkin sekian banyak kebaikannya, ini yang jadi keburukannya'”

Satu hal yang gua dapat kemarin, bahwa, mungkin kami, gua dan Eni sudah memasuki fase bahwa kehidupan kami sekarang sudah harus dipenuhi dengan penerimaan. Menerima bahwa partner kami adalah manusia yang utuh, yang dipenuhi kurang dan lebih. Menerima bahwa kekurangan adalah hal yang normal dalam mencintai.
Sebagaimana mereka berusaha menerima kami, pun pasti tidak mudah. Gua, dengan segala kurang dan lebih gua, baik dan buruk, yang membentuk gua jadi gua yang hari ini, dan dia berusaha menerima itu sebagai bagian dari Arista.
Begitu pula dengan Eni.
Jalan ini masih panjang, pernikahan hanyalah awal, dan gua, bahkan belum memasuki tahap itu. Maka, gua ingin menyiapkan diri gua sesiap-siapnya, dengan ilmu yang banyak, biar gua mampu jadi istri, jadi ibu, jadi manusia yang lebih baik.

15

Selamat hari Senin
Lima Belas bulan.

Kata orang, kita tidak pernah benar benar mencintai ketika belum mampu memaafkan. Dan ternyata, maaf memang paling sulit diberikan kepada diri sendiri.
Bukan, saya tidak marah padamu.
Saya marah pada diri saya, saya marah karena saya masih memilih bersama, padahal saya tau, ini tidak akan mudah.
Karena saya sudah pernah melaluinya dulu.
Jalan yang saya bersumpah tidak ingin melewatinya lagi.
Tapi terpaksa saya lalui, karena saya memilih bersama kamu, kalau saja bisa.
Berkatmu, saya bernostalgia, semua kilas balik itu, rasa rasa yang sudah lama saya lupakan, saya simpan di dasar ingatan, kembali menyeruak.
Semua perih, pedih, dan luka.

Kenapa?
Kenapa sekarang?
Ketika yang perlu kita jaga bukan hanya perasaan masing masing.
Ketika yang perlu kita pikirkan bukan hanya diri sendiri.
Pada akhirnya, saya cuma bisa salahkan diri.
Yang kurang siap dengan resiko jatuh cinta.
Yang terlalu tinggi menaruh harap.

Untuk segala lemahku,
Untuk semua celaku
Untuk apa apa yang sejak awal sudah ada,
Pernah ada harap yang besar, bahwa kau akan rangkul semua dengan lapang dada.
Pernah,
dan masih, sampai kata kata ini ditulis.