“Aku tau, kamu yang nafkahin keluarga. Aku juga tau diri kok”

Sometimes, you never know what you did to someone until the same things is done to you.
It is sad, when that twinge words comes from the person you love the most. The person that should love you, protect you, and she should be wiser than you.
You spent every single minutes to think ‘am I really that wrong?’ ‘what is my lack as a daughter?’

That words, will remain scar forever in my though, and my heart.

Advertisements

7 Pertanyaan Penting Sebelum Memutuskan Menikah

Sebelum membayangkan pesta bak negeri dongeng, sudahkah kita membicarakan hal-hal mendasar dengan si dia?

Saat hubungan kita sampai pada tahap ini, perasaan jadi campur aduk. Bahagia, girang, deg-degan, dan bagi saya dulu, ini merupakan puncaknya anxiety. Akibatnya, kita pun kerap berpikir tak jernih, padahal inilah saat yang paling membutuhkan kejernihan… dalam berbagai aspek!

Hubungan yang lebih serius tidak selalu ditentukan oleh usia hubungan itu sendiri. Tidak semua hubungan lama pasti akan berakhir pada pernikahan, serta tidak semua hubungan yang masih dalam hitungan bulan tak bisa melanjutkan ke jenjang ini.

Memutuskan untuk menikah atau tidak lebih merupakan dialog batin—diskusi kita dengan diri sendiri—ketimbang mendengarkan ricuhnya komentar orang sekitar, terlebih yang bermuatan pressure atau berlandaskan rasa takut (takut jadi perawan tua, takut nggak dapat jodoh, dan segala jenis takut-takut lainnya).

Masukan dari orang sekitar, terutama orang tua, memang penting. Namun perlu kita sadari, yang nantinya menjalani kehidupan berumah tangga ya kita sendiri. So, be very aware of what you decide, of what you choose.

Selain itu, ada sesuatu yang tidak kalah penting untuk dilakukan sebelum maju dengan keputusan “I do” tersebut, yakni berdiskusi dengan calon pasangan kita.

Apa adanya. Blak-blakan. Dari hati ke hati.

Sayangnya, banyak pasangan yang tidak melakukan tahapan ini. Atau, hanya ngobrol selewatnya saja. Akibatnya, muncul deh penyesalan demi penyesalan di kemudian hari, serta yang terparah, hubungan pun berakhir dengan perceraian.

Saya ingat pertama kali dekat dengan Trias 12 tahun lalu. Saat itu sekitar dua minggu setelah Ayah meninggal. Jadi, wajar ketika banyak orang mengira kedekatan kita semata karena saya baru kehilangan figur bapak. Yang tidak mereka tahu adalah kita berdua justru sering banget berdiskusi. Yang awalnya cuma membahas hal-hal umum seputar keluarga masing-masing, pekerjaan, isu terkini, perlahan berkembang jadi: “Kalau berkeluarga, value apa yang menurut kamu penting?”

Sampai kini diskusi, argumen, kompromi, dan rekonsiliasi tersebut (yang prosesnya kadang alot, kadang bisa cepat sayang-sayangan lagi) masih berlangsung. Namun, melihat kembali ke belakang, dengan hanya waktu 2 bulan pacaran sebelum akhirnya memutuskan menikah, kita berdua mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan penting ini di sela-sela kencan singkat kita berdua (saat itu Trias tinggal di luar kota karena tuntutan pekerjaan dan hanya kembali ke Jakarta sebulan 2x):

1. Bagaimana peran agama dalam berkeluarga? Seperti apa pendekatannya? Datang dari keluarga berbeda, tentu berbeda pula pandangan dan penerapan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk soal agama. Diskusi secara terbuka soal ini, dimulai sejak sebelum menikah, mampu menjembatani perbedaan yang ada.
2. Siapa pencari nafkah? Siapa yang mengurus rumah tangga? Seperti apa pembagiannya? Tidak usah ambil pusing akan pendapat orang lain tentang kesepakatan yang bakal kita jalani bersama calon pasangan. Selama sama-sama nyaman dan mau bekerja sama, just do it.
3. Seperti apa pola asuh ketika nanti memiliki anak? Apa peran masing-masing orang tua? Tidak ada juklak pasti dalam menerapkan parenting. Mendidik anak sendiri merupakan perjalanan berkelanjutan yang tersusun dari kasih sayang, komitmen, kerja sama, serta trial & error.
4. Nilai apa yang paling penting bagi kamu? Bagaimana kita bisa menyelaraskan semua itu? Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk kita, pasangan, maupun calon ibu mertua. Nilai-nilai yang penting bagi kita, belum tentu sebaliknya bagi pasangan. Tapi, perbedaan bukanlah sesuatu untuk dipertentangkan, apalagi di-“drama”-in. Saling menghargai dan berkolaborasilah. Capai tujuan pernikahan dengan cara saling melengkapi.
5. Apa kekurangan diri yang paling menonjol? Menyadari hal ini membuat kita dan pasangan sama-sama mawas diri akan ruang untuk memperbaiki diri serta saling mengingatkan satu sama lain di kemudian hari.
6. Bagaimana cara mengelola keuangan? Titik utama masalah keuangan setelah menikah sering kali berpangkal dari komunikasi. Jadi, sebelum kita dengan gamblang membuka ruang diskusi tentang topik yang kerap dianggap tabu ini, pastikan fondasi komunikasi kita sudah baik.
7. Seperti apa batasan terhadap keterlibatan keluarga besar? Dengan memberikan batasan jelas, itu berarti kita menghargai hak diri juga pasangan. Secara tidak langsung, kita pun menghormati keluarga besar dengan menghindari benturan dengan mereka. Seperti yang kita ketahui, keluarga besar yang suka ikut campur urusan domestik membuat hubungan langgeng dalam pernikahan sulit tercapai.

Banyak orang enggan membuka diskusi dari hati ke hati seperti ini karena takut akan realita jawabannya. Padahal, lebih baik kita tahu sejak awal dan renungkan baik-baik; seberapa besar toleransi yang dibutuhkan? Mampukah kita menerimanya?

Pada akhirnya keputusan ada di tangan kita, lepas dari dukungan—maupun tekanan—heboh orang-orang di sekitar kita.

Selain tujuh hal basic di atas (jika pada akhirnya kita memutuskan menikah), akan banyak hal baru yang penting sekaligus menantang untuk didiskusikan, seiring bertambahnya usia pernikahan. Kuncinya ada dua: senantiasa berdiskusi dan berkomitmen.

Berdasarkan pendapat maupun pengalaman pribadi kalian dalam menyikapi hal ini, kira-kira pertanyaan penting apa lagi yang perlu diajukan ke calon pasangan?

source : Sitta Karina

Sahabatku

The moment ketika sahabat-sahabat lo ngobrol di grup tentang sesuatu yang ga bisa lo sautin karena perbedaan lingkup.

I have no words.

Mereka ngomongin anak, pampers, suami, dimana semuanya asing buatku.

I have no words.

Kata orang, persahabatan tidak memerlukan obrolan setiap hari.
Mereka ngobrol, memang tidak setiap hari, tapi tidak ada sedikit saja bagian dari obrolan itu yang bisa kuraih.
Mungkin memang ada masa dimana kehadiran tidak begitu lagi diperlukan.

Here comes the day, ketika persahabatan sampai pada titik dimana tidak ada lagi yang perlu dibagi. Mengetahui bahwa mereka baik-baik saja, adalah cukup bagiku.

Apakah bisa masa lalu menghancurkan mimpi masa depanmu?

Seharusnya tidak

Apakah kamu bisa menghakimi seseorang berdasarkan masa lalunya?

Seharusnya tidak.

Teorinya begitu

Tapi mungkin akan agak sulit rasanya ketika hal tersebut terjadi padamu, iya, kau kekasihku.

Kau bilang, kau sedikit sedih, itu tidak sedikit, kuyakin begitu.

Ya, aku yang dulu memang menyedihkan. Mungkin kau perlu tahu, sekelumit tentang kisahku yang terdahulu. Kebetulan yang kau baca adalah kisah cinta 5 tahunku yang sangat menyedihkan.

Arista usia 18 sampai dengan 23 tahun. Arista yang baru belajar bahwa dia layak dicintai tanpa perlu mengemis untuk dicintai.

Sebenarnya mungkin aku tidak perlu menceritakan semua ini. Seperti yang sudah pernah kita bicarakan di awal pertemuan kita, masa lalu adalah dibelakang, kau bilang seburuk apapun masa laluku, tidak akan mempengaruhi kemantapan hati kamu untuk bersamaku.

Pertanyaanku adalah, masihkah pernyataan itu berlaku?

Aku khawatir, pernyataan indah itu terlontar hanya kau jatuh cinta, kau kenal aku baru sebentar, masih sebatas kulit luar, itupun belum seberapa.

Sekarang, ketika satu persatu tabir masa kelamku terkuak, akankah hatimu tetap?

Aku pasrahkan pada Tuhanku, sayang. Dari masa lalu, aku belajar, untuk tidak memaksakan kehendak.

Karena apa-apa yang ditakdirkan untukku, tidak akan pernah menjadi milik orang lain, begitupun apa-apa yang tidak ditakdirkan untukku, tidak akan pernah menjadi milikku.

Termasuk kau.

Mimpi

Manusia hanya takut pada hal yang tidak dipahaminya

Itu lah mengapa penting bagi kita untuk mencoba mengerti. Agar berkurang hal-hal yang kita takuti nantinya.
Saya punya mukena warna kuning gading. Itu mukena yang sering saya bawa-bawa. Karena tipis dan mudah dilipat. Semalam saya mimpi mukena saya dipakai orang. Ketika bangun pagi, saya ga langsung ingat, baru ngeh pas dijalan mau berangkat ke kantor. Tiba-tiba ada setitik rasa takut menyelinap di hati saya, kata orang, mimpi seperti ini pertanda tidak baik, katanya ada milik saya yang akan direbut orang.
Jika kembali kita renungkan, tidak ada hal milik kita yang mampu direbut orang, bila pun suatu saat itu terjadi, berati sejak awal, itu memang tidak ditakdirkan untuk kita. Mengertikah saya? Mungkin iya.
Mungkin tidak.
Karena kalau saya cukup mengerti, seharusnya mimpi semalam tidak mengganggu saya. Atau apapun sejenisnya.
Tapi sebagai manusia biasa, yang masih jauh dari paham, penuh dengan alpa dan lalai, saya masih ketakutan. Saya takut, ketika apa-apa yang sudah ada sekarang, diambil kembali oleh Allah, saya masih sulit menerima kenyataan bahwa saya hidup dengan tidak memiliki apapun, bahkan napas yang barusan saya hirup, bukanlah milik saya.

Saya belum sanggup kalau harus kehilangan lagi, ya Rabb. Tidak sekarang. Semoga mimpi semalam hanyalah pengingat, bahwa sejatinya kita hidup dari tiada, menjadi tiada.

Perlunya jadi manusia berilmu

Banyak hal yang tidak bisa kita paksakan.

Dalam hubungan ini, gua sadar begitu banyak hal yang harus gua pelajari, begitu banyak bagian hidup gua yang harus gua benahi, sifat dan sikap negatif gua yang harus gua ubah, banyak hal yang harus gua kompromikan, banyak  hal yang harus gua pahami. Karena apa? karena gua ingin tumbuh dan memperjuangkan semua, bersamanya. Itu pasti dan akan selalu.
Gua ingin fokus pada hal-hal yang penting, yang krusial, sampe gua ada waktu untuk mikirin hal-hal receh, hal-hal yang sering gua permasalahkan dari dulu sampe mungkin sebelom kenal mas Bagus.
Dari awal gua mengenalnya, gua terbiasa di perlakukan dengan sangat baik, sangat baik. Dalam hal ini gua yang harus banyak belajar. Karena ternyata masih banyak yang tidak gua pahami, tentang pernikahan.
Gua banyak sharing sama sahabat gua yang juga akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Apa aja yang udah dia siapin, tapi ketika berbicara masalah mental, kehidupan setelah menikah, mendadak pemilihan vendor dan tema resepsi jadi begitu tidak penting buat gua.
Apalah artinya selebrasi? Mungkin memang penting, sebagai penanda bahwa pernah ada satu hari dalam hidup gua dimana gua membuka lembaran baru, melangkah ke tahapan baru bersama orang yang sudah gua pilih dan dia juga memilih gua.
Tapi ya cuma itu, memang cuma itu. Euforianya paling hanya bertahan seminggu, sebulan atau paling lama setahun itupun kayanya ga mungkin ya. Tapi mengenai persiapan batin, menghadapi kehidupan setelah menikah, menjadi istri dari seseorang, menantu dari seseorang, ibu dari seseorang, disini gua merasa ilmu gua sangat amat cetek.
Banyak, banyaaak sekali yang belum gua tau mengenai ini. Ilmu berumah tangga. Gua merasa masih bodoh tapi juga bukan berati gua belom siap. Gua siap dan mau belajar untuk jadi mampu mendapinginya.
Gua ga terburu-buru, gua mau sebelum gua memasuki fase itu, gua bener-bener penuh akan ilmu dan pemahaman. Gua ingin jadi perempuan yang baik buat dia, perempuan yang mampu mengimbangi dia luar dan dalam, lahir dan batin.  Gua ingin rumah tangga kami nantinya berilmu, berkah dan penuh ridho Allah.
Semoga, Allah mampukan kami.

 

Lesson learnt

Pelajaran hari ini :

Kita tidak bisa mengontrol isi kepala dan pikiran orang lain, sedekat apapun kita dengannya, secinta apapun, sesayang apapun.
Kita hanya harus lebih mengerti, lebih memaklumi, lebih… segalanya.
Karena untuk menyatukan dua hati, berati kita siap berbenturan dengan segala ketidakcocokan, ketidaksamaan, dan ketidaksepahaman.

Rindu

 

Rindu untukmu, hidup. Tidak berkurang hanya karena temu, tidak redup hanya kerena jarak. Sekesal kesalnya aku padamu, akan lebih kesal membayangkan hari yang tanpamu. Yang tiada tawamu, yang tiada candamu.
Adamu adalah cukup, hadirmu adalah genap.
Semoga memang kamu yang akhirnya menggenapkan aku.
Semoga memang dirimu.