Bad memories turns into a bad dream?

Kurang lebih sudah lebih seminggu ini gua mimpi buruk dan terbangun dengan perasaan ga karuan. Kadang sedih, takut, marah atau tiba-tiba ngos ngosan. Padahal gua berdoa sebelum tidur. Mimpinya macem-macem. Rata-rata di dalem mimpi itu ada orang-orang yang memang gua kenal, keluarga, temen-temen. Scene nya macem-macem. Gua pernah mimpi dijauhi teman-teman gua, melihat kematian, terkena bencana alama, ga ada yang menyenangkan. Malah gua pernah juga kebangun trus langsung nangis karena sedih di mimpi itu kebawa sampe gua bangun.

Setelah iseng gua googling, katanya memang ada beberapa penyebab mimpi buruk berulang. Ada yang karena pengaruh obat tertentu, kondisi medis atau kondisi kejiwaan yang terganggu.

Gua ga lagi minum obat apa-apa. Berati ini murni karena kondisi diri gua, baik fisik maupun mental.

Attachment Style

Malam ini iseng ikut attachment style quiz, sebenernya hasilnya ga sepenuhnya benar, tapi ini bisa jadi gambaran yang lumayan detail kalau emang pengen tau attachment style kita apa sih. Sebagai info, setau gua attachment style, atau dalam bahasa Indonesia disebut gaya kelekatan, biasanya dipengaruhi oleh keluarga, orang ta lebih tepatnya. Karena orang tua adalah manusia pertama yang berinteraksi dengan kita, circle pertama. Ini hasilnya bikin gua merasa “ditelanjagi”.

The Fearful Avoidant often shifts between being present in a relationship and then withdrawn. This can create a sense of unpredictability in relationships. This is another three insecure attachment styles characterized by the following qualities :

  1. Fear of being truly vulnerable and expressing inner feelings and needs
  2. Trust wounds, suspicion and feelings of betrayal
  3. Experiencing guilt easily
  4. Strong emotions, aggressions, and anger at times
  5. Great capacity of emphaty for others, but often struggle with emphaty and kindness of yourself
  6. Feelings of ambivalence in relationships, often swinging from hot to cold
  7. Hypervigilance
  8. Poor boundaries unless experiencing anger
  9. Passionate but often emotionally volatile relationships.

    The Fearful Avoidant attachment style often comes about as a result of some form of abuse or trauma in childhood – whether it is emotional, physical or sexual. However, the Fearful Avoidant often had a strong bond with a parental figure as a child. This subconsciously taught them to crave emotional connection, but that it was unsafe.

    This is why the Fearful Avoidant is often unpredictable in their adult relationships, and can often be confused about how they feel – especially when stronger feelings begin to form. The Fearful Avoidant often craves closeness, yet feels the need to run from it intermittently or simultaneously.

Dismissive Avoidant Attachment Style
This is another three insecure attachment styles characterized by the following qualities :

  1. Difficult believing emotional needs can be met by others
  2. Quick to repress or diminish their own emotions
  3. Protective of own space and time alone
  4. Fear of commitment
  5. Dislike being vulnerable
  6. Blunt or harsh with actions at times
  7. Easily wounded by criticism
  8. Withdraw to self-soothe when hurt, often slow to warm back up

Kurang lebih itu penjelasannya. Gua nangis pas baca itu, agak sedih karena sedikit banyak itu bener-bener menggambarkan diri gua. Langsung terbesit “Oh jadi ini penyebabnya..”
Jadi ini penyebab kenapa ketika marah, gua selalu mendorong orang orang terdekat gua untuk menjauh. Ini penyebab kenapa gua gamau terlalu attached sama sesuatu atau seseorang. Ini penyebab gua sering nyalahin diri sendiri. Ini alasan kenapa gua gampang curiga sama orang lain. Semua ini terbentuk dari trauma masa kecil, dan terakumulasi selama hampir 30 tahun dalam diri gua.

Sebenernya udah lama gua sering mikir, kenapa gua agak takut dengan perubahan. Kenapa gua cenderung menyukai sesuatu yang monoton, yang rutin, kenapa gua cenderung malas mengenal orang baru. Untuk orang yang ga tahu, mungkin bisa bilang kalo gua egois banget, gua apatis, ga pedulian, keras kepala. Karena gua takut, terlalu attached dengan seseorang atau sesuatu kan menyakiti gua. Dan setiap kali kecewa, gua sering nyalahin diri sendiri karena merasa gagal menjaga perasaan gua. Setiap kali ada konflik, gua selalu mengembalikan hampir semua kesalahan ke diri gua, iya, gua keras ke orang lain, tapi gua lebih keras ke diri gua sendiri. Ini juga kenapa gua sering kesulitan dalam menjalani hubungan romantis dengan orang. Mungkin selama ini partner gua kesulitan karena gua sering sekali menjaga jarak, disatu sisi gua mengingkan kedekatan emosional tapi disisi lain gua takut kalau nantinya terlalu dekat gua akan lebih mudah tersakiti.

Ngga, gua menulis ini bukan sebagai alasan atau pembenaran atas sikap gua yang dirasa tidak menyenangkan oleh orang-orang disekitar gua. Gua hanya baru menemukan akarnya, penyebab dari semua kekalutan di kepala gua sendiri. Kalut yang ga pernah gua sampaikan ke siapa-siapa, karena gua ga percaya ada yang bisa mengerti. Satu-satunya yang bisa ga andalkan hanya diri gua sendiri, saat ini, dan sampai kapanpun, gua ga bisa mengandalkan orang lain, karena manusia berubah.

Work from heart

Henlow, my dear blog. Long time no write. Akhir akhir ini hidup lagi berat. Gua ga nyangka 2020 akan sedahsyat ini mengguncang kehidupan orang banyak, termasuk gua? Iya. Sejak 1 Januari 2020, sampe hari ini gua dibuat kenyang sama berita buruk, kabar ga enak. Banjir ibukota, sampe ke kabupaten Bekasi, wabah virus, dampaknya ke hampir semua lini kehidupan. Gua ga akan bahas disini, lelah gaes. Ga sampe disitu aja, dampaknya ke pekerjaan gua. Udah sebulan ini gua work from home. Jadinya yaa agak berubah aja gua gamau bilang sulit, karena kenyataannya masih banyak banget yang lebih sulit dari keadaan gua sekarang.

Terlalu focus nyari uang, nyari cuan, membuat gua jadi lupa bahwa, kadang kita terlalu sibuk melihat yang dzohir sehingga lupa akan hal yang batin. Gua kembali sampai di titik gua lelah berkejaran dengan mimpi sejuta dollar gua. Mimpi yang mahal karena gua sendiri yang membuatnya jadi begitu. Lelah dengan training ini itu, usaha ini itu, kerja ini itu, belakangan gua kembali menekuni hobby lama yang sangat gua rindukan, menulis. Iya, gua mulai menulis, kali ini tulisannya gua sertakan dalam workshop. Perasaan bahagia ketika dapat feedback, bahagia ketika sangat lancar menuang isi kepala sampai sampai lupa sudah melewati batas maksimal kata haha.

Buat gua, menulis itu hobby kecil. Gua sukai sejak kecil, dan gua lakukan dari langkah yang kecil pula. Gua nulis sendiri di buku tulis, apa aja, dari mulai diary, cerpen, isi kepala, sampai novela juga ada. Dulu jaman masih nulis di buku, pergelangan tangan gua sampe sakit. Kalau sekarang lebih sering di laptop. Memang masih jauh dari besar, tapi gua sangat suka. Ada perasaan bahagia yang membuncah ketika tulisan gua sampe dibaca orang banyak, apalagi sampai ada yang memfasilitasi. Dan bahagianya ga keukur pake uang.

Dibesarkan dari keluarga yang tidak mapan, membuat gua agak terobesi sama kerja dan cuan gede. Ditambah diamanahkan posisi sebagai tulang punggung keluarga, jadi prinsip gua bukan cari uang buat sendiri tapi buat orang serumah. Dua bulan ini, obsesi gua itu bersambut, tapi, setelah gua rasa-rasa, seperti ada yang mengganjal, seperti ada yang kurang. Hal batin itu tadi. Selama ini gua bekerja ga pilih-pilih, bercita cita jadi dokter spesialis syaraf, namun ternyata ditakdirkan jadi engineer telco, gua Cuma setahun di industry itu, banting setir jadi HRD, sampe hari ini udah hampir 7 tahun, dan ternyata gua mencintai pekerjaan ini. Baru terasa ketika gua kerja dari rumah. Ternyata gua bertahan selama ini karena gua cinta. Gua menyukai pekerjaan gua, dan ga kepikiran lagi untuk pergi, dari perusahaannya mungkin, tapi dari bidang ini, tidak.

Moment wfh ini membuka mata gua. Karena banyak, banyak sekali yang tersingkap. Banyak ilmu dan pelajaran, terutama tentang kehidupan yang diajarkan Allah ke gua. Bukan hanya tentang bagaimana agar kita dikelilingi dengan orang orang yang positif, tapi juga tentang bagaimana hal hal kecil seharusnya patut disyukuri. Hidup tidak hanya tentang materi, walaupun benar adanya, tanpa materi kita akan kesulitan hidup. Nyatanya, sulit atau tidak sulit hanya tentang sudut pandang. Sebulan terakhir ini hari hari saya begitu padat, urusan kerjaan, bisnis sampingan, urus wfh, sampai saya susah tidur karena kepala saya ga berhenti berpikir padahal mata udah ngantuk luar biasa. Ini mengingatkan gua ketika usia gua 23 tahun, ditinggal kabur partner kerja, ga punya atasan, kerja kayak anak hilang, ditambah ngurusin skripsi yang kaya sinetron kejar tayang. Kerja 6 hari seminggu, kadang 7. Tidur kurang dari 4 jam. Gua bahkan bisa tidur sambil berdiri di krl. Ga punya kehidupan. Persis hidup gua sebulan terakhir ini.

Gua putuskan mengambil jeda. Dengan menulis, seperti memberi gua napas bantuan. Berlebihan? No fcking way. Ini cara gua rehat. Cara yang murah, yang bisa gua lakukan dimanapun, tanpa skill, cukup seperti menuang isi kepala, dan voilaa, jadi berlembar-lembar, dan setelahnya hati gua terasa lebih ringan. Gua bahkan sering berdoa lewat tulisan. Gua percaya Allah pasti membacanya. Gua rindu yang seperti ini. Bekerja seperti biasa, dengan ritme yang familiar, dengan orang orang yang gua kenal, sambil masih bisa menekuni hobby. Introvert macem gua emang gampang habis energinya kalo ketemu orang banyak, gausah yang ratusan, belasan orang aja udah cukup menyerap tenaga gua, apalagi kalo bukan orang yang gua kenal, orang orang baru. Sepertinya emang bukan tempat gua disana.

Tolong jangan baca tulisan gua ini sebagai keluhan. Justru tulisan ini gua buat karena mata gua terbuka lebih lebar lagi kalau ternyata ga semua yang gua inginkan itu baik untuk gua. Gua boleh punya mimpi tinggi, sejuta dollar gua sebutnya selama ini. Gua boleh ngelakuin apapun untuk menggapai itu, bebas aja. Tapi, gua harus inget 1 hal. Jangan Cuma lihat yang dzohir. Gua harus memperhatikan kebutuhan rohani gua juga, yang batin, ga keliatan, Cuma bisa dirasa. Jadi mulailah bekerja dengan hati, dari hati, karena bahagia tidak Cuma tentang cuan.

Ikhtiar

Ikhtiar, tapi jangan libatkan hati. Ikhtiar itu pake tangan,kaki, tenaga fisik. Hati itu tugasnya tawakal. Kalau hati kita ikut berikhtiar, berati kita lebih percaya makhluk daripada Allah. Jadi kalau belum dikasih apa yang kita mau sama Allah, hati ga baper, dan percaya ‘Ala kulli syai in qodir.

-Ustad Hanan Attaki

Sakit rindu

Saya rindu kamu.

Rindu yang menyakitkan.

Rindu yang sedih.

Rindu yang saya tidak tahu bagaimana menyampaikannya.

Rindu yang sesak.

Rindu yang saya tidak yakin kamu mengerti.

Rindu yang butuh lebih dari sekedar temu.

Rindu cerita cerita kamu di akhir hari, senyum hangat dalam temaram dan genggam lembut sampai ke relung hati.

Selalu mudah untuk menulis ketika kamu sedih dibandingkan sedang galau sekalipun.
Gagal sudah niat saya biar tahun ini, blog saya ga sad genic lagi, kenyataannya kisah sedih lebih mudah ditumpahkan.
Seandainya saya bisa bilang, dari awal sebelum hubungan ini berjalan, ada setitik ragu yang menghinggapi saya. Apakah dia mampu menerima semua kurang dan lebih saya, buruk dan pahit masa lalu saya? Mampukah? Mengingat lingkaran pertemanan kami bersinggungan, pasti sedikit banyak dia pernah mendengar tentang rekam jejak saya di masa lalu.
Namun dia berhasil dengan mantapnya meyakinkan saya, dan saya juga dengan mudahnya percaya kalau dia mampu. Saya terkesima, merasa dicintai segininya oleh manusia selain ibu saya, merasa diterima seutuhnya, saya lupa, janji memang selalu mudah terucap ketika kita bahagia.
Bagian paling sulit adalah menepatinya, dan menjaganya tetap utuh, seperti saat diucapkan dulu.
Saya tahu, bersama saya itu tidak mudah, mendampingi saya itu sulit. Dan salahnya, saya pernah mengira kamu semampu itu. Saya salah sangka, lupa bahwa kita sama sama manusia biasa.

Renungan

Saya ngerti sekarang, kenapa saya belum dimampukan untuk menikah di usia dua puluh delapan.
Karena memang saya belum pantas bergelar istri.
Saya masih sulit sekali. Saya masih terlalu keras, bahkan ke diri sendiri.
Saya masih belum bisa jaga diri sendiri.
Saya belum mampu mengerti diri sendiri.

Menikah

Menikahi perempuan – pemarah – cemburuan – suka ngatur – ga percayaan – demanding. Menikah di usia 23 tahun, gue kira sebahagia itu tapi… a thread
.
.
.
Waktu nikah di 2015, gue dan @miamulyas sudah saling kenal selama 7 tahun. Kita kenalan 2008, pertama jadian 2008, sempet putus nyambung, lost contact, sampai akhirnya nikah. Kenal selama itu, gue kira udah mengenal calon istri gue waktu itu, “7 tahun, kurang tahu apa lagi sih?’
Waktu baru kenal dan pacaran, Mia orangnya pendiem, kayaknya kalem gitu, tipe2 yg gak akan pernah bisa marah deh siapa yang gak mengidam-idamkan coba? tapi setelah menikah, beda cerita jadi meski kalian kenal bertahun-tahun sama pasangan, pas nikah SANGAT MUNGKIN semua berbeda.
Sebelum menikah, kita tanpa sadar belajar soal hidup berumah tangga dgn melihat orang terdekat kita, yg paling dekat: orang tua bayangan paling standar “enak ya nanti kalau udah nikah, pulang kerja ada yang nyambut, sayang-sayangin.” Cewek juga mungkin punya bayangan sendiri.
Memang harapan yang paling bisa bikin kita terbang tinggi dan paling bisa buat kita jatuh lebih sakit lagi. Punya harapan sebelum menikah tapi pas udah nikah, harapan juga yang jadi ‘orang ketiga’ kadang bikin kita gak bisa menerima pasangan seperti semestinya. T
ahun-tahun pertama pernikahan dihiasi dengan banyak konflik “kok gak seindah yang di film-film ya?”. Pertikaian yang disebabkan tidak bisa mengerti pasangan, dan kita menuntut pasangan untuk mengerti kita bahkan kita untuk mengerti diri sendiri saja belum bisa.
Benar kata orang, jodoh itu bukan dicari tapi dijebak. Waktu kenal dan pacaran, the best part of us yang ditunjukkan tapi saat sudah menikah, the real us perlahan terlihat. Cinta didapat dengan perhatian, dirawat dengan pendapatan dan pengorbanan.
Belum selesai mengelola konflik diri sendiri dan konflik dengan pasangan, kami alhamdulillah dikaruniai anak kembar Jio dan Kio langsung 2 anak, dan membesarkan tanpa pengasuh (atas kesepakatan bersama) kebayang kan ngurus anak 1 aja gimana, ini langsung 2.
Di sela-sela kelelahan mengasuh 2 anak, waktu pulang kerja jadi sensitif banget gue orangnya cukup males ngomong tapi setiap pulang diwajibkan untuk cerita kalau gue ketiduran, bisa jadi ribut besar gak peduli perjalanan gue ke tempat kerja sebalik aja 3 jam.
Hal paling menyiksa adalah kita gak diperkenankan untuk sharing ke mana pun. Ketika ada masalah semua masalah ditelan dan dihadapi berdua ini pun gue cerita karena udah izin dan semoga bisa jadi pelajaran.
Semua pertanyaan berputar di kepala “kenapa sih dia begini?” “kenapa sih dia begitu?” “kenapa tidak seindah itu?”. Sampai suatu hari gue gak sengaja dengar bapak-bapak tua bicara di telepon, sepertinya sedang menasihati anaknya,

“Bagi pria, ketika memutuskan untuk berkeluarga, artinya dia sudah memutuskan bahwa hidup ini bukan lagi tentang dirinya,” katanya

*deg* selama ini gue menuntut untuk terpenuhinya kebutuhan gue “kenapa sih dia…” “kenapa sih dia…” bukannya bertanya “kenapa sih gue…”

Gue duduk terdiam. terpaku bersandar ke kaca jendela bus. Terlempar memori-memori saat indahnya ijab kabul. Gue telah lupa bahwa ijab kabul itu sakral. ada hal yang sangat dalam terjadi: saat ijab kabul, suami mengambil tanggung jawab ayah sang istri itu hal besar.
Sebelumnya: Mia menggantungkan hidup, hati, dan kebahagiaannya kepada ayahnya sekarang: ia menggantungkan semuanya pada gue, suaminya. Suami macam apa yang mementingkan kepentingannya sendiri?!
Dari situ gue sadar Mia selalu marah saat gue meminta bangun siang/tidur siang saat weekend karena momen bersama ayahnya meski untuk sekadar membetulkan selang mampet begitu berharga Mia ingin anak2 juga punya momen Sabtu dan Minggu bersama ayah, yang membekas dalam ingatan.
Mia selalu cemburu ketika gue terlalu sibuk dengan kerjaan, hobi akhirnya gue selalu melibatkan mengajak istri dan anak-anak saat gue melakukan hobi, atau seringnya, anak2 yang bersenang2, ayah bundanya nemenin.
Percayalah, saat punya anak, waktu terasa begitu cepat. Ngelihat foto yang baru berlalu 2 tahun aja rasanya pengen mewek merasa masih kurang banget memberikan perhatian waktu ke istri dan anak-anak sekarang, tau-tau udah pada gadis aja, 
gue gak mau tua nanti gue menyesal.
Mia juga selalu marah saat gue terlalu cuek dengan keadaan sekitar selalu nuntut gue untuk supel dan buka obrolan dengan orang-orang, siapa pun itu, atasan, satpam, tukang nasi goreng dan gue pernah dapet rejeki tak terduga dari ‘berusaha supel’ ini.
Sama halnya seperti Peter Parker yang digadang-gadang jadi ‘The Next Iron Man’, istri juga punya harapan yang besar terhadap suaminya gak peduli seorang suami dan ayah sudah siap atau belum.

Ketika kamu berkeluarga, kamu DIANGGAP SUDAH siap.

The pressure is there.
Karena sebagai suami dan ayah, adalah harapan terbesar keluarga, istri pasti menuntut banyak hal agar sang kepala keluarga bisa berwibawa, jadi panutan dan ketahuilah, GAK AKAN PERNAH ADA istri yang mau suaminya jelek suami juga harus seperti itu ke istrinya, kenapa?
Istri akan cantik, terus senyum, terus nenangin dan hangatin keluarga terus kalau dibahagiain terus, dan gak ada sedekah yang lebih afdol dibanding menafkahi dan membahagiakan istri.

Dan akhirnya gue sadar, kenapa pernikahan gue dan Mia gak selalu manis, tapi banyak pahit-pahitnya, karena gue sadar dalam pribadi gue masih banyak penyakit. 

Dan seperti pahitnya obat, semoga konflik yang pernah terjadi bisa mengobati mendewasakan.
Ia butuh orang yang mau dengerin segala protesnya dia (karena dia ternyata orangnya tukang protes wkwk) dan gue ternyata butuh orang yang punya keberanian buat ‘ngebenerin’ gue, karena selama ini gak pernah ada yang berani/mungkin gak enak aja makasih ya, kamu,
@miamulyas

Ketika kita ditanya siapkah berumah tangga, kita bisa saja menjawab “siap”. Kenyataannya, saat menjalani dan tersandung untuk pertama kali, kita sadar bahwa kita memang tidak akan pernah siap.
Temukanlah ia, bukan yang sempurna bagi semua bukan pula yang menuntut kamu jadi sempurna tapi yang selalu tau, bahwa kamu lebih baik dari itu.

Source : Dara Prayoga

Ada beberapa bagian yang gua bold, sebagai pengingat bahwa pernikahan adalah kerja keras. Jadi carilah pekerja keras yang mau bekerja sama denganmu, mau jadi partner, mau membagi hidupnya.
Menikah adalah ibadah paling panjang, temukanlah orang yang mau menjalaninya bersamamu, pahit dan manis, selama mungkin.
Utas ini membuat gua sadar bahwa, masih banyak penyakit dalam diri gua yang harus gua obati, penyakit yang tidak ingin gua bawa ke dalam rumah tangga gua nanti.