Favorite Movie

Film kesukaan? Buanyaak.
Sebenernya kalau dilihat dari genre, gua suka film komedi romantis, action, drama keluarga, dan psychological thriller (kadang kadang), oiya, fantasy juga suka, tapi ga semua.
Gua suka nonton dari kecil, selain baca buku dan dengerin musik, nonton juga salah satu me time gua, ga mesti film, gua suka TV series bahkan kartun. Jaman sekarang udah banyak platform yang memanjakan kegemaran gua ini, dan jenis tontonannya pun semakin banyak.

Kalo akhir akhir ini, gua lagi senang nonton drama Korea, aihhh, dan juga romcom jadul, semacam Legally Blonde, Leap Year, When Harry met Sally, The Proposal dan semacamnya. Sekarang ini susah nemuin romcom gemes yang jalan ceritanya ga gampang ditebak. Nonton film film semacam itu bikin gua merasa “ah berapa belas tahun yang lalu ini? Man, i’m old”

#30DaysWrittingChallenge

#day7

Single and Happy

Menjadi seorang single dan bahagia adalah sebuah pilihan. Arista di masa lalu pernah sangat bahagia manjadi single. Bebas, sebuah frasa indah yang langsung saya wujudkan begitu menyandang status jomblo, yang mungkin untuk sebagian orang terkesan menyedihkan. Tapi tidak untuk gua waktu itu, saya bahagia menjadi jomblo, bebas melakukan apapun yang dimau, bebas kemanapun gua ingin, dan bebas bergaul dengan siapapun yang gua mau. Alasan gua bahagia menjadi single adalah karena gua ga perlu membagi apapun ke siapapun. Gua suka kalau hidup gua tetep menjadi konsumsi diri gua sendiri. Kalaupun mau berbagi, ya bagian yang gua mau aja, ga mesti semua, dan ga ada tuntutan untuk itu.

Karena kembali ke awal, menjadi bahagia adalah pilihan, dengan siapapun kita nantinya, sendiri ataupun berdua. Kalau ketika sendiri kita sudah bahagia, maka jangan biarkan kebahagiaanmu direnggut oleh yang menemani kelak. Memiliki pasangan sudah seharusnya memberi nilai tambah pada kehidupan kita, tapi jangan pernah menggantungkan kebahagian kita pada orang lain, karena sejatinya, kodrat manusia adalah mengecewakan.
ps : currently I’m single but not available 🙂

#30DaysWrittingChallenge

#day6

My parents

Maafkan diri ini yang dilanda kesibukan karena kehilangan seorang teman, membuat gua skip nulis 4 hari, banyak banget.

Kali ini tentang orang tua gua. Bunda dan Ayah. Menjadi satu satunya anak perempuan mereka selama hampir 30 tahun adalah, pelajaran hidup yang besar, yang tidak akan gua dapatkan kalau gua tidak menjadi anak mereka.

Arista kecil sampai dengan remaja muda sering sekali mengeluh, dalam hati tentunya, kenapa ayah dan bunda yang menjadi orang tuanya? Kenapa bukan orang lain? Yang lebih ini dan lebih itu. Kenyataannya, memang orang tua gua banyak kekurangan dalam berbagai hal, kekurangan yang sering gua sesali, kekurangan yang sering gua bandingan dengan orang tua teman teman gua. Jujur saja, orang tua gua menikah dengan membawa serta luka luka masa lalu mereka. Luka yang tanpa mereka sadari, mereka wariskan ke gua.

Semakin usia gua bertambah, semakin gua paham bahwa penting untuk kita merasa tuntas dengan diri sendiri, sebelum akhirnya kita yakin untuk membawa orang lain untuk ikut serta dalam kehidupan kita, sebagai partner, pasangan hidup, yang dengannya kita akan membagi segala hal, seumur hidup. Gua bertekad menyembuhkan luka luka masa kecil gua sebelum nanti gua jadi orang tua. Sehingga luka ini tidak akan gua wariskan ke anak gua kelak.

Jadi anak orang tua gua bukanlah hal yang mudah, namun memiliki mereka adalah hal yang patut gua syukuri. Karena mereka lah yang membentuk gua menjadi seperti hari ini, gua yang mulai mencintai diri gua sendiri, gua yang mulai bisa menerima bahwa dalam hidup, tidak semua hal bisa sesuai dengan kemauan gua. Mungkin nanti ketika gua menjadi orang tua, gua akan paham beratnya mendidik anak, diamanahkan seorang manusia, dimintai pertanggung jawaban sampai dipengadilan akhir. Beratnya konsekuensi itu sempat bikin gua gamau punya anak. Gua merasa tanggung jawab itu terlalu berat untuk gua pikul. Tapi gua bisa apa kalau memang gua dianggap mampu?

#30DaysWrittingChallenge

#day5

Places I want to visit

New York.
And it will always be.
Agak aneh mungkin untuk sebagian orang, ketika ditanya pengen banget kemana, rata-rata menjawab Eropa classy, elegant dan indah sebagai destinasi impian, tapi saya, malah memilih Amerika, New York pula. Kota yang macet, ramai, dan katanya bau pesing.
Kenapa Cha?
Karena sibuknya itu yang bikin kota itu terasa hidup. Kalau ditanya, saya ga cuma pengen liburan kesana, saya pengen tinggal, bekerja dan hidup disana. Setidaknya itu yang akan selalu jadi jawaban bila ditanya “Kalau keluar negeri pengen kemana?”
New York bukan kota pertama yang saya tau ada diluar Indonesia. Tapi saya jatuh cinta dengan gemerlapnya pertama kali dari film Home Alone 2: Lost in New York. Padahal saya sudah sering nonton film dengan setting luar negeri, tapi entah kenapa New York digambarkan begitu apik di film ini, the Plaza Hotel yang ikonik, Times Square dengan annual New Year Eve’s ball nya, Central Park, Brooklyn Bridge, Broadway Theater District, and the one and only Statue of Liberty! Gua senyum senyum sendiri pas nulis ini gilak!

Saya pengen kesana sekali, sekali aja seumur hidup, karena sadar, untuk kerja dan tinggal disana kayanya akan sulit haha, saya realistis aja. Karena kayanya agak sulit ngembangin karir sampe kesana sih.

#30DaysWrittingChallenge

#day4

A memory

Ini ga akan bisa ya diceritakan dalam satu postingan. Selama hampir 30 tahun hidup, begitu banyak kenangan-kenangan yang tercipta, yang indah maupun yang buruk. Tapi kalau harus memilih, ada satu kenangan, yang entah kenapa, dia muncul kembali ke ingatan paling pertama.
Pernah ada satu masa dalam hidup gua, yang mungkin bisa gua sebut sebagai titik terendah gua dalam hidup. Gua ingat bahwa gua pernah begitu membenci diri sendiri, gua pernah sangat tidak ingin melanjutkan hidup. Saat itu gua merasa begitu sendirian, padahal sebenernya ngga. Ada keluarga, temen-temen, sahabat, tapi gua ga cukup mampu untuk membagi semua dengan mereka.
Hal itu udah lewat beberapa tahun, gua pun sudah bisa kembali meneruskan hidup, melanjutkan apa-apa yang sempat tertinggal, tapi bila bicara tentang kenangan, sepertinya saat itu tidak bisa gua hilangkan. Hal ini menjadi pengingat bahwa ada masa-masa seperti itu dalam hidup gua, momet yang mungkin sudah bisa gua tertawakan hari ini.

#30DaysWrittingChallenge

#day3

Things that makes me happy

Banyak, dan kebanyakan hal-hal sederhana. Tapi bisa gua rangkum dalam tiga besar.
Gua suka ketika gua bisa melakukan hal-hal yang gua sukai, ga muluk-muluk kok, kebanyakan adalah hal remeh, misalnya sesederhana bisa cukup tidur. Kenapa?
Mungkin saat-saat gua cukup tidur dalam hidup ini adalah ketika gua bayi sampai dengan pra sekolah. Karena ketika mulai sekolah, boom! gua harus bangun sebelum subuh setiap Senin-Jumat, kadang Sabtu, jarang tidur siang karena sekolah gua sampe sore, dan mulai kenal yang namanya begadang. Iya, gua udah begadang dari SD, karena gua sekolah cuma 5 tahun, jadilah gua diberikan tugas yang buanyak naujubilah, ga jarang gua ketiduran di meja belajar, dan kebangun subuhnya untuk nyelesein tugas yang belom selesai. Dan itu berlanjut sampei gua kuliah. Gua sering ketiduran di depan laptop, di kelas, di bus, di kereta, iya di KRL yang penuh dan berjejal itu gua bisa ketiduran. Itulah kenapa tidur cukup sangat membahagiakan buat gua.
Kedua, me time. Versi gua adalah ketika gua bisa rebahan, ditemani buku-buku bagus, suasanya sepi, tenang, sejuk. That’s all. Oiya, film bagus juga. Gua suka baca, nulis dan nonton. Nonton sendiri tapi ya, atau berdua, dirumah, bukan rame-rame di bioskop. Keduanya adalah cara gua recharge energy.
Selebihnya?
Gua seneng bisa berguna buat orang lain, terutama orang-orang yang gua sayang. Gua seneng kalo ada 1 senyum dan merekah karena gua, atau doa baik yang melangit karena gua. Ikut jadi sukarelawan misalnya. Gua pernah mempertimbangkan untuk kerja di Kalimantan sebagai sukarelawan perawat orangutan, tentu saja nyokap gua ga setuju.

That’s all. Bukan hal-hal yang mahal atau berat untuk diwujudkan, kan?

#30DaysWrititngChallenge
#day2

My personality

Atau dalam bahasa Indonesianya adalah kepribadianku.
Ya gimana ya, gua sih ga bisa menilai kepribadian gua gimana, nanti jadinya ga objektif, tapiii kalau menurut tes MBTI, gua masuk kedaam tipe ISTJ.
Apa itu ISTJ? Introvert, Sensing, Thinking and Judging.
Katanya, orang dengan tipe kepribadian ini cenderung senang bekerja sendiri, tekun, menyukai kehidupan yang stabil dan damai, memiliki tanggung jawab yang tinggi dan realistis. Duh, jadi besar kepala gua bacanya. Tapi dengan semua kelebihan itu, ISTJ cenderung keras kepala, sulit menerima perubahan kecuali menguntungkan untuknya, dan kaku pada aturan yang ada.

Hmm, sepertinya familiar.
Tiba tiba teringat ketika orang-orang terdekat gua pernah bilang “Jangan terlalu kaku lah” atau ” Jangan terlalu keras kepala, Cha”.
Ternyata, ini memang sudah jadi kepribadian.
Dan ya, gua seperti itu memang. Ketika gua meyakini sesuatu, good luck lah buat kalian yang berusaha menggoyahkan pemikiran gua. Jarang sekali gua tiba-tiba berubah pikiran. Karena biasanya semua keputusan yang gua ambil sudah melalui proses pemikiran yang matang. Gua jarang sekali impulsif. Tiba-tiba pengen ini itu, tiba-tiba pergi kesana kesini, tiba-tiba beli sesuatu. Checkout keranjang shopee aja gua biasanya mikir minimal seharian, bukan, bukan karena gua lagi bokek atau tanggal tua, tapi lebih ke
“gua bener-bener butuh barang ini ga?”
“gua bakal nyesel ga setelah beli?”
“kira-kira sampe 2-3 tahun kedepan masih bisa gua pake ga ni barang?”
Itu semua karena gua ga mau melakukan hal yang sia-sia. Gua gamau apapun terbuang tanpa guna, uang, waktu, tenaga, pemikiran, umur, semua harus ada faedahnya.

Untuk pekerjaan, hmm, sejujurnya gua lebih suka kerja sendiri. Kenapa? Karena lebih nyaman aja, asalkan ada petunjuk yang jelas, tujuan yang mesti gua capai, gua ga masalah kerja sendirian. Tapi ada beberapa waktu ketika gua harus kerja bareng tim atau mendelegasikan kerjaan gua ke orang lain. Gua ga percayaan orangnya, serius. Gua ga percaya aja kerjaan gua akan selesai dengan baik kalau dikerjakan orang lain. Nyebelin ya? Iya banget.

Trus katanya ISTJ itu suka dengan kehidupan yang aman, damai dan stabil. Bener banget. Sampai hari ini gua masih berjuang untuk itu. Hidup yang aman dan stabil adalah dambaan gua dari kecil. Stabil yang gua maksud disini adalah untuk segala aspek ya, dari mulai keuangan, emosional, sampai spritual. Gua ga masalah dengan sesuatu yang monoton, dan jarang merasa bosan, makanya alhamdulillah banget gua ga stress harus WFH dan PSBB gini. Gua butuh hidup yang stabil, agar supaya (((agar supaya))) lebih tenang aja. Yaiyalah. Gua memilih masih jadi karyawan korporat sampai hari ini karena gua pengen penghasilan yang tetap, yang gua tahu setiap bulannya akan dapet berapa, sehingga gua bisa memperhitungkan berapa yang akan dilakokasikan kemana.

Berikutnya tentang ISTJ, katanya sikapnya cenderung tenang, tapi minim empati. Kasian ya. Biasanya ini opini dari orang-orang yang belum terlalu mengenal gua. Katanya gua kurang empati, kemudian didukung oleh orang-orang yang suka bilang gua lempeng aja keliatannya, cenderung judes, jarang berekspresi, datar gitu. Ah masa iya? Ya gapapa, gua mungkin jarang nunjukin kalau gua lagi senang atau sedih, tapi seenggaknya gua mengakui itu semua ke diri gua sendiri. Gua ga denial. Cuma ya jarang nunjukin aja, karena gua tidak melihat manfaatnya nunjukin emosi ke orang lain. Kalopun mau berbagi ya yang seneng-seneng aja.

Begitulah kurang lebih tentang kepribadian gua. Banyak yang jelek, tapi ada juga yang baiknya. Kayanya ga mudah memang berteman dengan pemilih seperti gua, tapi ya, menurut gua kita memang harus memilih yang paling baik sebisa mungkin.

#30DaysWrittingChallenge
#day1

30 days writting challenge

Jadi, dalam rangka mengisi waktu disaat PSBB, yang mana kegiatan gua hanya working from home dari rumah (yaiyalah ya), gua menantang diri gua untuk menulis blog gua secara rutin selama 30 hari.

Tantangan ini sebenarnya dimulai dari postingan instagram story Falla Adinda, yang menangang dirinya sendiri, kemudian gua yang melihat merasa tertantang juga (lah?)

Iya, blog gua yang sad genic ini sepertinya butuh warna baru, biar ada menariknya gitulah, dipoles sedikit isinya karena selama ini gua lebih sering menulis ketika sedih, iya, sedih banget emang. Makanya, ketika melihat tantangannya, gua merasa “hmm leh uga nih”. Kebetulan isinya adalah mengupas lebih dalam, tapi ga dalam dalam amat, tentang diri kita.

Semoga gua konsisten dengan tantangan yang gua berikan untuk diri gua sendiri, dan semoga gua tetap bisa bebas berekspresi disini.

2010-2020

“Oh she’s fine”
“She’s doing great all this time”

Itu segelintir respon yang terlintas dikepala gua ketika melihat update akun social medianya.
Good.
Gua ingat sekali obrolan pertama itu, dua orang dewasa muda, 19 tahun, yang mencari jati diri, galau cinta dan laki laki. Berbanding terbalik dengan pembicaraan terakhir kami yang begitu serius, mungkin? dan hampa nyawa.
Seketika gua mengerti bahwa mengecilnya lingkaran pertemanan diusia menjelang 30 adalah hal yang lumrah, dan sangat normal. Sekali lagi, ternyata meninggalkan dan ditinggalkan adalah sesuatu yang wajar, terlebih ketika hal itu terjadi lusinan kali dalam hidup lo. Sedih? Jelas. Sering terjadi bukan berarti meniadakan rasa sakit.
Pertemanan terjadi ketika dua, atau lebih, manusia menemukan kesukaan yang sama. Kegemaran, makanan, pekerjaan, atau sesimple sama-sama suka ngeblog. Dan ketika pertemanan itu berakhir, bukan berati mereka saling benci, ngga, mereka cuma tumbuh kearah yang berbeda, mungkin juga menemukan kegemaran baru yang ternyata tidak sama, atau menemukan lingkaran pertemanan baru yang tidak sejalan dengan sang kawan.
Itu salah satu pelajaran berharga yang gua dapat diusia ini. Kalau kata Falla Adinda, proses kontemplasi membuat kita tumbuh menjadi pribadi yang berbeda.
Semakin dewasa, semakin kita butuh partner, entah itu pasangan, atau teman, atau sahabat, yang sejalan dengan kita. Kenapa?
Ya kenapa ngga?
Menyamakan visi dan misi itu sulit, mengubah sudut pandang itu sulit, maka mudahkan lah hidup ini dengan mencari partner dan sahabat yang memang sudah se visi dan misi dari awal.
Selayaknya cinta, maka pertemanan pun tidak seharusnya dipaksakan. Ternyata, perpisahan tidak selalu buruk, walaupun sudah pasti menggores luka.

Tapi

Kali terakhir kisah cinta saya berantakan, ketika usia saya melebihi 25 tahun. Saya berharap, hubungan asmara saya berikutnya adalah dengan lelaki yang stabil secara emosional, dan mau belajar mengerti, bahwa saya dipertemukan dengannya membawa luka. Saya selalu mengidam idamkan hubungan yang stabil, tenang, mungkin cenderung monoton, tapi tak apa, asalkan damai dan tidak lelah saya dibuatnya. Hubungan yang tidak banyak ombaknya, karena masing masing dari kami sudah mengerti bahwa kami sudah terlalu tua untuk drama percintaan layaknya remaja. Sudah bukan waktunya lagi.

Tapi, tidak semua yang saya inginkan, diberikan saat ini juga.

Tapi, mungkin saya yang belum layak untuk pendamping seperti yang daya idamkan.

Tapi, mungkin belum waktunya saya tenang dalam menjalani hubungan asmara.

Tapi, bukankah pernikahan adalah tentang kompromi.

Tapi, saya sudah ga punya tenaga untuk banyak penyesuaian dan kompromi.

Tapi, kalau begini caranya, saya jadi takut untuk menikah.

Tapi, ah, terlalu banyak tapi.