Nasihat pernikahan

“A, Tidak ada wanita yang mau diajak hidup susah. Tapi semua wanita itu tau hidup tidak selamanya penuh bunga dan pelangi, akan selalu datang badai dalam berbagai bentuk. tugasmu hanya dua, memastikan kamu bukan sumber badainya dan memastikan kamu penghasil bunga dan pelangi untuknya”  -Papa-

source

Advertisements

Selalu mudah untuk menulis ketika kamu sedih dibandingkan sedang galau sekalipun.
Gagal sudah niat saya biar tahun ini, blog saya ga sad genic lagi, kenyataannya kisah sedih lebih mudah ditumpahkan.
Seandainya saya bisa bilang, dari awal sebelum hubungan ini berjalan, ada setitik ragu yang menghinggapi saya. Apakah dia mampu menerima semua kurang dan lebih saya, buruk dan pahit masa lalu saya? Mampukah? Mengingat lingkaran pertemanan kami bersinggungan, pasti sedikit banyak dia pernah mendengar tentang rekam jejak saya di masa lalu.
Namun dia berhasil dengan mantapnya meyakinkan saya, dan saya juga dengan mudahnya percaya kalau dia mampu. Saya terkesima, merasa dicintai segininya oleh manusia selain ibu saya, merasa diterima seutuhnya, saya lupa, janji memang selalu mudah terucap ketika kita bahagia.
Bagian paling sulit adalah menepatinya, dan menjaganya tetap utuh, seperti saat diucapkan dulu.
Saya tahu, bersama saya itu tidak mudah, mendampingi saya itu sulit. Dan salahnya, saya pernah mengira kamu semampu itu. Saya salah sangka, lupa bahwa kita sama sama manusia biasa.

Renungan

Saya ngerti sekarang, kenapa saya belum dimampukan untuk menikah di usia dua puluh delapan.
Karena memang saya belum pantas bergelar istri.
Saya masih sulit sekali. Saya masih terlalu keras, bahkan ke diri sendiri.
Saya masih belum bisa jaga diri sendiri.
Saya belum mampu mengerti diri sendiri.

Menikah

Menikahi perempuan – pemarah – cemburuan – suka ngatur – ga percayaan – demanding. Menikah di usia 23 tahun, gue kira sebahagia itu tapi… a thread
.
.
.
Waktu nikah di 2015, gue dan @miamulyas sudah saling kenal selama 7 tahun. Kita kenalan 2008, pertama jadian 2008, sempet putus nyambung, lost contact, sampai akhirnya nikah. Kenal selama itu, gue kira udah mengenal calon istri gue waktu itu, “7 tahun, kurang tahu apa lagi sih?’
Waktu baru kenal dan pacaran, Mia orangnya pendiem, kayaknya kalem gitu, tipe2 yg gak akan pernah bisa marah deh siapa yang gak mengidam-idamkan coba? tapi setelah menikah, beda cerita jadi meski kalian kenal bertahun-tahun sama pasangan, pas nikah SANGAT MUNGKIN semua berbeda.
Sebelum menikah, kita tanpa sadar belajar soal hidup berumah tangga dgn melihat orang terdekat kita, yg paling dekat: orang tua bayangan paling standar “enak ya nanti kalau udah nikah, pulang kerja ada yang nyambut, sayang-sayangin.” Cewek juga mungkin punya bayangan sendiri.
Memang harapan yang paling bisa bikin kita terbang tinggi dan paling bisa buat kita jatuh lebih sakit lagi. Punya harapan sebelum menikah tapi pas udah nikah, harapan juga yang jadi ‘orang ketiga’ kadang bikin kita gak bisa menerima pasangan seperti semestinya. T
ahun-tahun pertama pernikahan dihiasi dengan banyak konflik “kok gak seindah yang di film-film ya?”. Pertikaian yang disebabkan tidak bisa mengerti pasangan, dan kita menuntut pasangan untuk mengerti kita bahkan kita untuk mengerti diri sendiri saja belum bisa.
Benar kata orang, jodoh itu bukan dicari tapi dijebak. Waktu kenal dan pacaran, the best part of us yang ditunjukkan tapi saat sudah menikah, the real us perlahan terlihat. Cinta didapat dengan perhatian, dirawat dengan pendapatan dan pengorbanan.
Belum selesai mengelola konflik diri sendiri dan konflik dengan pasangan, kami alhamdulillah dikaruniai anak kembar Jio dan Kio langsung 2 anak, dan membesarkan tanpa pengasuh (atas kesepakatan bersama) kebayang kan ngurus anak 1 aja gimana, ini langsung 2.
Di sela-sela kelelahan mengasuh 2 anak, waktu pulang kerja jadi sensitif banget gue orangnya cukup males ngomong tapi setiap pulang diwajibkan untuk cerita kalau gue ketiduran, bisa jadi ribut besar gak peduli perjalanan gue ke tempat kerja sebalik aja 3 jam.
Hal paling menyiksa adalah kita gak diperkenankan untuk sharing ke mana pun. Ketika ada masalah semua masalah ditelan dan dihadapi berdua ini pun gue cerita karena udah izin dan semoga bisa jadi pelajaran.
Semua pertanyaan berputar di kepala “kenapa sih dia begini?” “kenapa sih dia begitu?” “kenapa tidak seindah itu?”. Sampai suatu hari gue gak sengaja dengar bapak-bapak tua bicara di telepon, sepertinya sedang menasihati anaknya,

“Bagi pria, ketika memutuskan untuk berkeluarga, artinya dia sudah memutuskan bahwa hidup ini bukan lagi tentang dirinya,” katanya

*deg* selama ini gue menuntut untuk terpenuhinya kebutuhan gue “kenapa sih dia…” “kenapa sih dia…” bukannya bertanya “kenapa sih gue…”

Gue duduk terdiam. terpaku bersandar ke kaca jendela bus. Terlempar memori-memori saat indahnya ijab kabul. Gue telah lupa bahwa ijab kabul itu sakral. ada hal yang sangat dalam terjadi: saat ijab kabul, suami mengambil tanggung jawab ayah sang istri itu hal besar.
Sebelumnya: Mia menggantungkan hidup, hati, dan kebahagiaannya kepada ayahnya sekarang: ia menggantungkan semuanya pada gue, suaminya. Suami macam apa yang mementingkan kepentingannya sendiri?!
Dari situ gue sadar Mia selalu marah saat gue meminta bangun siang/tidur siang saat weekend karena momen bersama ayahnya meski untuk sekadar membetulkan selang mampet begitu berharga Mia ingin anak2 juga punya momen Sabtu dan Minggu bersama ayah, yang membekas dalam ingatan.
Mia selalu cemburu ketika gue terlalu sibuk dengan kerjaan, hobi akhirnya gue selalu melibatkan mengajak istri dan anak-anak saat gue melakukan hobi, atau seringnya, anak2 yang bersenang2, ayah bundanya nemenin.
Percayalah, saat punya anak, waktu terasa begitu cepat. Ngelihat foto yang baru berlalu 2 tahun aja rasanya pengen mewek merasa masih kurang banget memberikan perhatian waktu ke istri dan anak-anak sekarang, tau-tau udah pada gadis aja, 
gue gak mau tua nanti gue menyesal.
Mia juga selalu marah saat gue terlalu cuek dengan keadaan sekitar selalu nuntut gue untuk supel dan buka obrolan dengan orang-orang, siapa pun itu, atasan, satpam, tukang nasi goreng dan gue pernah dapet rejeki tak terduga dari ‘berusaha supel’ ini.
Sama halnya seperti Peter Parker yang digadang-gadang jadi ‘The Next Iron Man’, istri juga punya harapan yang besar terhadap suaminya gak peduli seorang suami dan ayah sudah siap atau belum.

Ketika kamu berkeluarga, kamu DIANGGAP SUDAH siap.

The pressure is there.
Karena sebagai suami dan ayah, adalah harapan terbesar keluarga, istri pasti menuntut banyak hal agar sang kepala keluarga bisa berwibawa, jadi panutan dan ketahuilah, GAK AKAN PERNAH ADA istri yang mau suaminya jelek suami juga harus seperti itu ke istrinya, kenapa?
Istri akan cantik, terus senyum, terus nenangin dan hangatin keluarga terus kalau dibahagiain terus, dan gak ada sedekah yang lebih afdol dibanding menafkahi dan membahagiakan istri.

Dan akhirnya gue sadar, kenapa pernikahan gue dan Mia gak selalu manis, tapi banyak pahit-pahitnya, karena gue sadar dalam pribadi gue masih banyak penyakit. 

Dan seperti pahitnya obat, semoga konflik yang pernah terjadi bisa mengobati mendewasakan.
Ia butuh orang yang mau dengerin segala protesnya dia (karena dia ternyata orangnya tukang protes wkwk) dan gue ternyata butuh orang yang punya keberanian buat ‘ngebenerin’ gue, karena selama ini gak pernah ada yang berani/mungkin gak enak aja makasih ya, kamu,
@miamulyas

Ketika kita ditanya siapkah berumah tangga, kita bisa saja menjawab “siap”. Kenyataannya, saat menjalani dan tersandung untuk pertama kali, kita sadar bahwa kita memang tidak akan pernah siap.
Temukanlah ia, bukan yang sempurna bagi semua bukan pula yang menuntut kamu jadi sempurna tapi yang selalu tau, bahwa kamu lebih baik dari itu.

Source : Dara Prayoga

Ada beberapa bagian yang gua bold, sebagai pengingat bahwa pernikahan adalah kerja keras. Jadi carilah pekerja keras yang mau bekerja sama denganmu, mau jadi partner, mau membagi hidupnya.
Menikah adalah ibadah paling panjang, temukanlah orang yang mau menjalaninya bersamamu, pahit dan manis, selama mungkin.
Utas ini membuat gua sadar bahwa, masih banyak penyakit dalam diri gua yang harus gua obati, penyakit yang tidak ingin gua bawa ke dalam rumah tangga gua nanti.

Jadi orang miskin

Ada satu masa dimana gua pengen banget jadi orang kaya. Orang kaya yang punya banyak uang. Yang bisa beli apa aja, yang bisa pergi kemana aja yang dimau. bahkan gua pengen anak anak gua nanti bisa sekolah dimana aja mereka mau, bisa menuhin apapun kebutuhan mereka.
Karena gua tau gimana rasanya diremehin, direndahin, dan ga dianggep hanya karena gua miskin, karena gua ga punya uang.

Masa kecil gua bukanlah cerita dongeng yang serba manis. Masa kecil gua ga bisa dibilang indah, walaupun mau gamau mesti gua syukuri juga. Gua tau rasanya sekelas sama anak anak borju, anak anggota DPR, anak pengusaha, anak pilot, anak dokter, dan macem-macem. Karena gua agak pinter aja makanya Allah nempatin gua disekolah bonafide. Sekolah dasar yang mestinya 6 tahun, cukup gua kelarin 5 tahun aja. Selesai SD, terus sampe gua selesai sekolah, keadaan finansial keluarga gua ga bisa dibilang baik, masih berlanjut sampai gua selesain diploma 3 gua. Gua irit uang bayaran kuliah 1 tahun, jadi cukup 2 tahun aja gua selesai D3. Selesai kuliah, alhamdulillah gua langsung dapet kerja sebelom wisuda.
Dari situ, titik awal gua bersumpah sama diri gua sendiri, kalo gua akan kerja keras, gua harus punya uang banyak, gua gamau miskin terus terusan. Sampe akhirnya gua bisa biayain kuliah ekstensi gua 3 tahun berikutnya pake duit kerja gua, lembur siang malem Senin sampe Jumat, kuliah Sabtu kadang Minggu lembur juga. Gua cuma mikir satu, kuliah gua mesti kelar, ga boleh macet karena gua ga bisa bayaran.

Hari ini, 3 tahun sejak gua jadi sarjana. Gua masih miskin? Iya, masih. Gua masih banyak utang, dan gua masih direndahin orang karenaa gua miskin, ya walaupun ga separah dulu. Dan kadang gua masih ngerasa sedih, kok ada yang orang orang yang tega begitu? Apa gua kurang giat kerja? Apa gua kurang kreatif cari peluang usaha?

Ini akan gua ajarkan ke anak anak gua nantinya. Bukan salah kita kalo kita lahir miskin, tapi kalo sampe kita mati dalam keadaan miskin, itu salah kita. Gua gamau mereka nanti menilai orang dari punya atau ketidakpunyanya  akan rupiah. Jangan jadi orang yang jahat. Nakal tidak apa, asal jangan jahat. Jahat bikin orang sakit hati, jangan bikin orang lain nangis sampai akhirnya mengadukanmu pada penciptanya.

Senin bersama Eni

Menghabiskan 1 jam dari hari Senin bersama Eni, sahabat jaman setelah sekolah (?) yang sebentar lagi akan melepas masa lajang. Satu jam terasa begitu pendek untuk membagi cerita 3 tahun yang terlewat tanpa temu. Dalam satu jam itu, hampir semua keluar tanpa jeda, tanpa ampun, galau galau masa pencarian cinta sampai akhirnya kini ia berlabuh.
Kenal Eni justru setelah lulus SMA, sembilan tahun yang lalu, dari blog. Kami hanyalah remaja menjelang 20 tahun yang galau sama sosok laki laki yang baru kami kenal sebentar, sosok yang kami pikir akan selamanya ada disisi. Masa ketika kami begitu naif, begitu mudah sedih, mudah galau, mudah tertawa, mudah menangis. Bisa dibilang kami jarang sekali tatap muka, mungkin selama sembilan tahun, bisa dihitung pertemuan yang benar benar butuh waktu luang. Tapi, setiap kali ngobrol, obrolan kami banyak sekali, luas, dalam, dari mulai pekerjaan, pacar, teman, sahabat, keluarga, orang tua, masa depan, perasaan, dan masih banyak sekali. Topik topik yang jarang mau saya bicarakan dengan orang yang lebih lama dikenal sekalipun.
Dua bulan dari hari ini, Eni akan resmi jadi istri orang. Bukan lagi remaja galau yang gampang curhat, gampang menangis, gampang risau. Eni akan menapaki jenjang baru dalam hidupnya, jenjang yang belum akan gua tapaki. Akan ada cerita cerita baru yang dia bagi nantinya, cerita yang gua belum tau akan seperti apa?

Lebaran pertama

Ini lebaran ke lima saya tanpa ayah di rumah kami. Sejak dia memutuskan tinggal di rumah yang lain, ini adalah pertama kalinya saya tidak mengunjungi dirinya. Sengaja? Tentu.

Kita tidak pernah tau apa yang kita miliki sampai suatu saat kehilangannya.

Pepatah klasik yang masih benar adanya sampai detik ini. Dulu saya sering merasa rasa sendiri, bagaimana rasanya tidak ada ayah? Sedihkah? Sepikah? Ternyata tidak juga. Mungkin karena pondasi komunikasi kami juga tidak sebaik ayah dan anak perempuan lain ya, mungkin iya.

Kalau dulu saya beberapa kali menulis tentang apa apa yang ingin saya sampaikan, kalau saja bisa, ke ayah saya. Tapi kali ini tidak. Sekarang bukan lagi waktunya dia. Seperti yang pernah saya bilang, saya tidak punya tempat di hati untuk orang orang yang memilih pergi. Kalau mereka memilih pergi, silakan, jangan pernah berharap saya akan melarang.

Saya ingin hidup tenang dengan apa apa yang saya miliki, bukan dengan yang tidak ada, apalagi kalau yang tidak ada itu adalah yang sengaja menghilang.

Ayah, tapi darinya saya banyak belajar, untuk tidak jadi seperti dia, untuk tidak menjadi orang tua seperti dia bagi anak anak saya kelak, untuk tidak terjerumus laki laki seperti dia. Darinya saya berkaca, apa apa yang harus saya hindari, apa apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan sebagai manusia.

Saya masih belajar, dan akan selalu.

Ketiadaannya mungkin menggores luka di hati saya, hati adik adik saya, namun setiap luka akan sembuh dengan ikhlas. Saya tidak bisa memilih siapa yang jadi ayah saya, namun saya ikhlas dipilihkan ayah seperti dia, saya ikhlas ketika justru dia yang menorehkan luka paling dalam di hati yang seharusnya dia jaga paling utama.

Terima kasih untuk dua puluh tiga tahun kebersamaan kita, ayah. Mari kita bahagia sendiri sendiri.

Jadi begini rasanya membenci diri sendiri

Perempuan yang baik untuk laki laki yang baik.

Dan sebaliknya.

Tapi saya belum putus asa untuk jadi baik. Untuk jadi pantas mendampingi yang baik. Untuk jadi layak didampingi dengan yang terbaik.

Dua puluh delapan tahun bukan usia yang muda untuk merisaukan mana perbuatan baik dan buruk. Dua puluh delapan seharusnya sudah cukup tau konsekuensi dari sebuah keputusan.

Saya merasa tertinggal jauh dibandingkan teman teman sebaya saya. Seharusnya di usia ini saya tidak lagi galau tentang tujuan hidup. Seharusnya saya memikirkan sesuatu yang lebih berbobot.

Saya merasa tidak berkembang. Tidak jadi lebih baik.

Kadang saya merasa hidup saya adalah sebuah kerumitan yang saya buat sendiri. Hidup saya jadi lebih susah karena keputusan dan kesalahan yang tidak seharusnya saya lakukan. Kalau sudah begitu, salah siapa? Ya saya.

Sudah lama saya tidak berdialog dengan diri sendiri seperti ini. Sudah lama tidak tanya “kamu mau jadi apa?” “Setelah ini harus ngapain?” ke diri sendiri. Seharusnya pertanyaan saya sekarang lebih berisi, lebih bermutu.

Saya ingin jadi pribadi yang lebih tegas ke diri sendiri. Saya ingin mampu melakukan apa yang saya anggap benar. Saya pengen punya keluarga harmonis. Yang jauh lebih baik dari keluarga tempat saya tumbuh. Saya ingin jadi anak yang baik, pasangan yang baik, orang tua yang baik. Padahal diri saya sendiri belum baik, terus harus gimana? Saya kaya orang bodoh yang berputar di kesalahan dan dosa yang sama. Ga kebayang sulitnya jadi orang tua saya. Memiliki dan membesarkan anak seperti saya. Ckck.

Saya mohon berikan hidayahMu ya Allah. Untuk saya, untuk diri saya sendiri dulu. Karena saya mau jadi lebih baik untuk saya, bukan untuk orang lain.

Jatuh cinta dan sakit hati itu sepaket. Sama dengan baik dan buruknya seseorang yang telah datang, dan kamu ijinkan tinggal dihatimu. Ingat kembali tujuanmu dulu ketika membiarkannya masuk dan menjadi bagian dalam hidupmu- Arista kepada Arista