Advertisements

“Sederhanakan ekspektasi, tinggikan kesabaran, sempitkan ego, luaskan rasa syukur”

-Aji Nur Afifah

Mari berkelana dengan rapat, namun tak dibebat. Janganlah saling membendung bila tak ingin tersandung. Pegang tanganku, namun jangan terlalu erat karena aku ingin seiring, bukan digiring.

-Dee Lestari

To be bride.

Minggu sore kemarin terlibat percakapan singkat dengan Eni. Seorang sahabat yang sedang menyiapkan hari bahagianya sebagai calon istri dari seseorang. Kami berbagi ketakutan, kekalutan menjelang berubahnya status menjadi nyonya. Segala kekhawatiran yang pernah terlintas juga dikepalaku, satu, dua kali, ah tidak, mungkin lebih.
Dia membagi pembicaraannya juga dengan temannya yang sudah menikah dan beranak.  Mengenai segala ketakutan menjelang pernikahan, temannya menjawab seperti ini,

“begitu kamu jd istri, kamu otomatis pengen jd istri yang baik, ibu yang baik. asli deh ga kepikiran ketakutan kaya pas masih pacaran”

Deg. Mungkin iya, ketika menikah nanti, fokus kita akan berubah. Sudut pandang kita akan berubah. Itulah mungkin sebabnya semua akan terasa berbeda ketika menikah, tidak peduli berapa lama kita saling kenal dengan suami kita, tidak peduli berapa tahun ktia berpacaran. Kemudian, sebuah kalimat, sebagai pengingat, bahwa,

“oh kalo manusia itu sepaket, mungkin sekian banyak kebaikannya, ini yang jadi keburukannya'”

Satu hal yang gua dapat kemarin, bahwa, mungkin kami, gua dan Eni sudah memasuki fase bahwa kehidupan kami sekarang sudah harus dipenuhi dengan penerimaan. Menerima bahwa partner kami adalah manusia yang utuh, yang dipenuhi kurang dan lebih. Menerima bahwa kekurangan adalah hal yang normal dalam mencintai.
Sebagaimana mereka berusaha menerima kami, pun pasti tidak mudah. Gua, dengan segala kurang dan lebih gua, baik dan buruk, yang membentuk gua jadi gua yang hari ini, dan dia berusaha menerima itu sebagai bagian dari Arista.
Begitu pula dengan Eni.
Jalan ini masih panjang, pernikahan hanyalah awal, dan gua, bahkan belum memasuki tahap itu. Maka, gua ingin menyiapkan diri gua sesiap-siapnya, dengan ilmu yang banyak, biar gua mampu jadi istri, jadi ibu, jadi manusia yang lebih baik.

15

Selamat hari Senin
Lima Belas bulan.

Kata orang, kita tidak pernah benar benar mencintai ketika belum mampu memaafkan. Dan ternyata, maaf memang paling sulit diberikan kepada diri sendiri.
Bukan, saya tidak marah padamu.
Saya marah pada diri saya, saya marah karena saya masih memilih bersama, padahal saya tau, ini tidak akan mudah.
Karena saya sudah pernah melaluinya dulu.
Jalan yang saya bersumpah tidak ingin melewatinya lagi.
Tapi terpaksa saya lalui, karena saya memilih bersama kamu, kalau saja bisa.
Berkatmu, saya bernostalgia, semua kilas balik itu, rasa rasa yang sudah lama saya lupakan, saya simpan di dasar ingatan, kembali menyeruak.
Semua perih, pedih, dan luka.

Kenapa?
Kenapa sekarang?
Ketika yang perlu kita jaga bukan hanya perasaan masing masing.
Ketika yang perlu kita pikirkan bukan hanya diri sendiri.
Pada akhirnya, saya cuma bisa salahkan diri.
Yang kurang siap dengan resiko jatuh cinta.
Yang terlalu tinggi menaruh harap.

Untuk segala lemahku,
Untuk semua celaku
Untuk apa apa yang sejak awal sudah ada,
Pernah ada harap yang besar, bahwa kau akan rangkul semua dengan lapang dada.
Pernah,
dan masih, sampai kata kata ini ditulis.

Hari ini saya belajar bahwa, semakin kita berumur, semakin sedikit hal yang bisa kita bagi ke orang lain, atau orang terdekat sekalipun.

Dan hal-hal itu menjadi lebih baik ketika disimpan sendiri, digumamkan saja dalam sepi, atau diadukan kepada yang Maha Kuasa dalam sujud-sujud yang lama.

Review : Duel

Sudah lama yaa tidak menulis review drama Korea. karena sampe hari ini belum nemu lagi drakor yang after tastenya nyesss. Kalopun ada yang nyess tapi yaa ga cukup nyesss banget gituuu untuk gua tulis haha.
Semua ini berawal ketika gua nonton 30 but 17 atau Still 17. Drakor ini rekomendasi kakak Ati, bandar drakor di kantor. Ketika gua baru nonton 2-3 episode awal, dia langsung nanya “gimana? ganteng kan Yang Se Jong?”


Hah? Sejong siapa? “Itu lho tokoh utamanya”
Gua bahkan ga ngeh namanya Yang Se Jong. Gua tipikal orang yang baru akan nyadar kerupawanan seseorang bukan di pertemuan pertama. Cailahh pertemuan hahaha.
Jadi gini, gua agak sulit menilai orang itu ganteng atau ngga, ini lagi ngomongin laki ya, di pengelihatan pertama atau kedua atau ketiga sekalipun. Biasanya gua baru ngeh setelah ngeliat berkali-kali, dan intens, ini kalo emang dia ganteng, kalo ngga, ya biasa aja sampe akhir ahaha.
Dan hal ini berakhir dengan gua gagal move on setelah kelar drama Still 17.
Drama itu manis banget, ga ada tokoh antagonisnya, semua baik dan manisnya bikin diabetes. Disini Sejong ssi berperan sebagai Gong Woo Jin, seorang designer panggung yang hobi kabur-kaburan keluar negri karena trauma masa lalunya yang berhubungan cinta pertamanya. Di drama ini kesannya dia agak cemen ya, lemah banget, hanya karena trauma masa lalu, sampe kebawa-bawa ke 13 tahun kemudian. Dia cool banget disini, senyumnya pelit, and this is what I really like from a man! Dan di beberapa episode akhir Still 17, gua baru ngeh “Oiya, ganteng juga uri Mr Gong ini ya” HAHAHA.
Iya, gua selambat itu menyadarinya.
Karena begitu merindukan melihat Mr Gong atau Yang Se Jong lagi, gua memutuskan nonton dramanya yang lain, daaaan ini adalah kesalahan besar yang menjerumuskan gua pada kecintaan yang baruuu awww.
Drama keduanya yang gua tonton adalah Temperature of Love. Sama, masih bergenre komedi romantis seperti Still 17, daaaan, dia ganteng banget disitu omg can’t help.

Di drama ini dia berperan sebagai chef On Jun Sun, seorang koki masakan Perancis, yang persisten banget sama perasaannya ke Seo Hyun Jin yang gua lupa siapa namanya dia di drama ini (mianheo eonnie) hahaha saking yang gua pelototin cuma Chef On. Dramanya panjang, 40 episode, sebenernya agak terlalu panjang, tapi secara keseluruhan bagus, terutama karena ada Chef On. Di drama ini dia romantisssss banget, jago masak, (iya dong kan chef), dan ekspresif. Beda banget sama perannya di Still 17 yang cenderung pendiam dan menutup diri. Kelar drama ini, seperti sebelumnya, gua kembali rindu dan melakukan kesalahan yang sama dengan nonton drama Sejong ssi yang berjudul Duel.


Drama yang tayang tahun 2017 ini bergenre Thriller, Sci-fi, Criminal, dan ga ada romantis-romantisnya sama sekali. Yang paling membuat gua penasaran sebenernya adalah di drama ini, Sejong ssi memerankan 2 peran sekaligus, koreksi, 3 peran sekaligus dengan karakter yang beda-beda semua.


Di drama ini, Sejong ssi memerankan Lee Sung Joon, Lee Sung Hoon dan Lee Yong Sup. Semuanya ganteng ga ada obatnya, Even pas dia jadi Lee Sung Hoon yang notebene kloningan yang kerjanya ngebunuh-bunuhin orang karena terobsesi banget bertahan hidup, dia tetep super ganteng.

Ketika dia meranin Lee Sung Joon, kloningan baik hati yang ketiban apes mulu gara-gara sering disalahin atas kejahatannya Sung Hoon, tetep ganteng. Dan ketika dia meranin dr Lee Yong Sup, yang settingnya tahun 1993, dengan jas putih dokter, kacamata jadul dan rambut belah pinggir yang ditata rapi, dia tetap memukau sodara-sodara.


Gimana rasanya nonton Duel? Puyeng, gua stress bawannya tiap Lee Sung Hoon nongol di layar hp gua haha. Di episode awal-awal, bawannya mikir “ini kapan kelarnya ya  nih drama”. Eh pas akhirnya gua kelarin tadi pagi, gua mewek dong, sedih gua. Happy ending sih sebenernya. Soo Yoon sehat lagi, Deuk Chon Ahjussi juga pulih, Sung Jun masih sehat, tapi Sung Hoon meninggal, ga sampai hati gua nulis dia mati, even dia kloningan. Padahal disini Lee Sung Hoon adalah peran antagonis, villain yang dari awal gua gemes banget sama dia pengen dia mati aja rasanya, tapi pas mati beneran, gua sedih banget, seriusan dah. Masalahnya dia meninggal dalam keadaan abis nolong orang, nolong Hyungnya, Sung Jun, Soo Yoon, dan ngegorok lehernya pimpinan Park San Young, yang jahatnya naujubilah, pake pisau bedah. Dan Sung Hoon sadar, kalo ternyata dia ga perlu terobsesi bertahan hidup dengan cara kotor seperti yang selama ini dia lakuin, karena sebelumnya Sung Jun bilang ke dia, “Just live, like a normal people”

I love the way he stares. Matanya itu gaes, tipikal yang bikin lemes kalo diliatin lama-lama. Di Duel ini Sejong ssi jarang banget senyum, pas jadi Lee Sung Jun, atau dr Lee Yong Sup apalagi pas jadi Lee Sung Hoon, senyumnya justru senyum jahat, licik, senyum ngeledek yang cuma separo bibir keangkat, tapi justru dia paling ganteng dan keren pas jadi Lee Sung Hoon, apaaa ini kenapa justru gua demen sama karakter jahatnya diaa??
Inget gua pernah bilang kalo gua justru suka sama cowo yang suka berantem? sama cowo yang cenderung “bad”? Hal ini masih berlaku, ternyata. Cowo jutek emang gemesin. Jutek yang emang bawaan lahir ya, bukan jutek yang tiba-tiba karena kesel atau marah. Sebenernya bukan seneng sama cowo tukang berantem, cuma seneng liat caranya membela, dan nolongin orang yang disayang. Di detik-detik akhir hidupnya malah Sung Hoon tiba-tiba jadi baik, sumsum tulang Mi Rae dikembalikan, dia minta Sung Joon dibebaskan dan nuker sama dirinya sebagai ganti, yang pastinya dia udah tau, kalo itu sama aja dengan nyerahin nyawa ke pimpinan Pak San Young kamvvret itu. Mungkin dia udah prediksi, dia bakal mati kalo masuk ke sarangnya San Young, tapi seenggaknya dia puas udah ngebunuh tua bangka jahat itu HAHA.
Tapi bisa ga, writer nim, kalo Sung Hoon jangan dibikin mati gitu. Hal ini menyebabkan kehampaan luar biasa sepeninggal beliau 😦

Kelar drama ini, gua malah makin demen sama Sejong ssi, heran gua. Dari 3 drama nya yang gua tonton marathon selama kurang dari 1 bulan ini menunjukkan kalo gua kurang kerjaan HAHA.  Ngga, bukan, dari 3 drama ini menunjukkan kalo Sejong ssi bukan cuma super ganteng, tapi juga super berbakat. Gua belom pernah liat aktor baru, yg bahkan baru 1 tahun debut, tapi udah dapet 3 peran sekaligus dalam 1 drama dengan karakter yang beda-beda. Itu hal yang sulit, sulit banget, bahkan yang udah meranin banyak drama pun kayanya belom ada yang dapet peran dobel-dobel gitu kaya dese.

Dalam beberapa interview yang gua tonton, dia orangnya ya gimana ya haha, gua masih belom bisa menilai lebih jauh, karena yaa itu gua lemah dalam hal ini. Tapi kelihatan dia orangnya fokus kalo kerja, kalo dapet peran, dia akan total meranin dan, ya, dia Capricorn.

His new upcoming drama will be Saeguk, named My Country. Ini drama Saeguk keduanya setelah Saimdang light diary yang belom gua tonton. Sejujurnya gua kurang suka drama Saeguk, tapi mungkin akan gua coba tonton, karena Sejong ssi ada disana.

Baiklah, gua sudahi saja review Kdrama yang lebih mirip fangirlingan ini. Akhir kata gua cuma bilang, Dangsini Joayo, Sejong ssi.

Mari kita sama-sama berfokus pada bagaimana cara mencintai dengan lebih baik lagi, bertanya pada diri “apa yang sudah gua berikan untuk dia?” Ketimbang, melihat segala kekurangan dari pasangan dengan menuntutnya menjadi seseorang yang bukan dirinya.