Kita tidak bisa mengontrol pikiran dan mulut seseorang. Yang bisa dilakukan hanyalah mengontrol pikiran kita agar kejadian apapun tidak mempengaruhi pikiran kita.

Advertisements

Bertahan, merelakan.

Gua pernah baca judul sebuah tulisan persis seperti yang gua tulis diatas. Isinya kurang lebih bagaimana kita bertahan untuk merelakan, nantinya.
Pada dasarnya, gua bukan orang yang gampang menyerah, tapi juga bukan orang yang senang memperbaiki. Karena menurut gua, kalau satu hal udah terlalu banyak yang rusak, yang harus diperbaiki, maka makin sedikit kesempatan untuk menjadi lebih bahagia dalam hubungan itu.

Setelah semuanya, sekarang gua ga boleh nangis lagi. Bukan, gua bukan melarang diri gua, tapi gua dilarang untuk menangis. Artinya kalo nanti besok-besok gua sedih, gua harus ketawa aja. Atau yaa ditahan aja dulu sampe ga keliatan, sampe tinggal gua sendirian.
Bahkan untuk ngeluarin perasaan aja, gua terbatas.

Satu titik dimana gua ga nyangka akan sesulit ini.

Titik dimana gua sadar, akan banyak hal yang sama yang mungkin akan berulang dimasa depan. Gua cuma takut gua lelah sebelum waktunya.

Gua masih bertahan sampai hari ini, kerena gua tau, menjaga itu lebih sulit daripada mendapatkan. Gua tau semua tidak akan mudah, tapi gua ga nyangka akan sesulit ini bahkan di awal perjalanan kami. Kesulitan untuk saling mengerti, untuk kompromi, untuk saling menjaga perasaan, kenapa tiba-tiba terasa sulit.

Sesulit itukah gua dimengerti? Sesulit itukah mengerti orang lain?
Sepanjang ingatan gua, kayanya gua ga pernah minta yang aneh-aneh, yang sulit diwujudkan. Gua cuma pengen dingertiin, dibiarin jadi diri gua sendiri.

Tulisan gua ini mungkin akan kebaca suatu hari ini. Reaksinya? Mungkin akan marah, atau hmm apa ya, entahlah, gua pengen tetep punya satu tempat dimana gua bisa jadi diri gua sendiri. Diri gua yang sekarang udah banyak ga bolehnya, udah banyak harusnya.

Gua merelakan diri gua untuk bertahan, karena gua tau, Allah akan selalu mendekatkan gua dengan yang baik.

Seringkali

Seringkali, isi hati lebih baik dipendam dibandingkan bila dikatakan.

Seringkali, luka ditimbulkan oleh orang terdekat dan tercinta.

Seringkali, air mata lebih banyak mengering di dalam hati dibandingkan di pipi.

Seringkali, berpura-pura bahagia jauh lebih baik ketimbang jujur ungkapkan sedih hati.

Seringkali, diam adalah bentuk kecewa yang lebih dalam dibandingkan amarah.

Menikah

Pagi ini diawali dengan liat ig story Bulek Hana, fotonya berdua Mas Her, tertawa. Bulek peluk Mas Her dari belakang, dan Mas Her mandangi Bulek sambil tersenyum.

Mungkin itu hanya sebagian kecil sekali dari bahagianya menikah. Keciiiilllll sekali. Ketika tidak ada lagi sungkan untuk memajang foto berdua, tidak lagi risih menggandeng tangannya di tempat umum, ya, sesimple itu. Sebut pikiranku sempit, tapi entah kenapa aku merasa, aku tiba di fase dimana aku ingin sekali menikah, sangat ingin. Bukan, bukan karena tuntuan usia, bukan karena habis liat foto Bulek Hana dan Mas Her, bukan juga karena teman-teman seusiaku sudah banyak yang menikah. Tapi aku hanya ingin, setiap apa-apa yang aku lakukan untuknya, bernilai pahala, dinilai ibadah. Kan masih banyak bentuk ibadah yang lain? Kan kerja untuk keluarga juga ibadah, senyum untuk orang tua juga ibadah?
Iya, aku tau.
Tapi aku ingin, apa-apa yang aku lakukan untuknya juga jadi ibadah.
Berapa banyak kisah cinta sebelum pernikahan yang aku liat dari teman-temanku, sahabatku, tapi baru cerita Bulek Hana Mas Her dan Mba Kiki Bang Adi yang begitu membuatku merasa, ini yang aku mau, yang seperti ini yang paling aku inginkan. Justru kisah cinta yang tidak ada sebelum pernikahan yang membuatku begitu ingin menikah. Bukan pacar-pacaran sebelum nikah yang aku ingin. Pernikahan sederhana yang khidmat, yang disaksikan malaikat Allah, berjanji sehidup sesurga dengan ridho Allah, itu semua lebih dari cukup.
Tapi
.
.
.
Memang belum waktunya, Cha.
Iya, aku tau.
.
.
Aku ingin menikah karena,
karena kamu orangnya.
Semoga apa-apa yang belum ada padamu, Allah sempurnakan untukku. Begitu juga sebaliknya, semoga apa-apa yang ada padaku, cukup untuk melengkapimu. Bila belum cukup, semoga Allah cukupkan. Aku tau kita banyak kurang, kurang dekat dengan Allah, kurang meminta apa-apa yang seharusnya kita mintakan, dan kurang tepat caranya. Semoga Allah tidak marah setelah kita berusaha mengentikan semua yang salah yang kemarin-kemarin terjadi. Semoga Allah bantu kita untuk terus dan terus mendekat.
Hingga suatu hari itu tiba, entah kapan, mungkin esok, esok, esok, esok lagi. Semoga memang kamu, dalam versi yang lebih baik, dan aku, juga dalam versi terbaik, yang akan disandingkan Allah, sebagai satu dari sebagian jiwa yang telah dipasangkan-pasangkanNya kelak.
Mari beri Aamiin.
Aammin

Candu

Aku rindu naik gunung.
Naik gunung itu cape, pegel, kotor, mahal,
tapi aku senang.
Karena selalu ada pesan kehidupan terselip ditiap pendakian.
Tentang kerendahan hati, kesiapan diri, kebersaman, tolong menolong, dan bagaimana jatuh cinta kembali.
Aku jatuh cinta. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di pom bensin tanjung, pada puncak Guntur yang dengan gagah menunggu di sebelah sana, pada trek pasirnya yang memorable, pada puncak Cikuray yang bikin penasaran karena belum tergapai, pada trek tanah dan akarnya yang nyakitin dengkul, pada puncak batu Lembu dan pemandangan malamnya, pada puncak gunung Bongkok yang penuh batu-batu besar.
Jatuh, dan mencinta.
IMG_5143

Papandayan yang cantik.
DSC_1946

Trek kebun teh, Cikuray.

IMG_0069

Trek gunung Bongkok
IMG_0288.JPGBatu Lembu.
Semua ini tak lekang
dan akan selalu terkenang.